Senin, 15 Februari 2021

Review Film Hujan di Balik Jendela


Hujan di Balik Jendela
Sutradara: Dyan Sunu Prastowo
Penulis: Raditya Kurnia dan Budhita Arini
Pemeran: Bio One, Yasamin Jasem, dan Clara Bernadeth
Durasi: 88 menit

Dalam rangka menyambut hari kasih sayang, KlikFilm menghadirkan tayangan romantis dari dunia perfilman Indonesia sejak 13 Februari lalu. KlikFilm Productions merilis dua karya perdana mereka, yaitu Tentang Rindu dan Hujan di Balik Jendela. Judul dari film Hujan di Balik Jendela diadaptasi dari lagu Senandung dengan judul yang sama. Berdurasi sekitar 88 menit, film drama garapan Dyan Sunu Prastowo yang skenarionya ditulis oleh Raditya Kurnia dan Budhita Arini ini dibintangi oleh Bio One, Clara Bernadeth, dan Yasamin Jaseem.

            Memiliki alur cerita yang unik dengan sentuhan romansa dan beberapa kritik sosial di sela-sela dialognya, film ini tidak hanya manis untuk ditonton, tetapi mampu menciptakan ruang diskusi setelah selesai menontonnya. Hujan di Balik Jendela tidak seremeh kisah cinta segitiga di usia dewasa muda, lebih dari itu, di dalamnya kita akan menemukan suasana pasca kerusuhan Mei 1998 yang membawa luka dan trauma mendalam bagi orang-orang yang melewatinya. Trauma yang tidak bisa begitu saja disembuhkan oleh waktu. Kita akan dibawa untuk melihat rasa sakit, luka, dan harapan untuk pulih. Untuk menggambarkannya, mungkin dapat saya katakan bahwa ini film yang benar-benar menghanyutkan perasaan saya.

            Baik dari sinematografi yang halus dan ilustrasi musiknya yang dominan dengan suara denting piano memberikan suasana yang syahdu sekaligus sendu. Efeknya benar-benar membuat saya merasa masuk dalam adegan yang terus bergerak. Penjiwaan para aktornya sungguh apik. Bio One hadir untuk memerankan seorang pria aktivis bernama Dika yang memiliki kekasih dari keluarga terpandang, untuk itu ia merasa harus mengorbankan idealismenya demi membahagiakan gadis yang membersamainya selama ini. Alda sebagai kekasih Dika yang diperankan oleh Yasamin Jaseem mendukung peran Bio One dengan menunjukkan chemistry yang luar biasa hangat di antara keduanya.

Layaknya sebuah hubungan yang selalu memiliki ujiannya tersendiri, saat Alda dan Dika tengah berbahagia dengan komitmen yang dijalani, seseorang hadir dengan pesona dan masa lalunya mengusik perasaan Dika. Clara Bernadeth yang digambarkan sebagai perempuan 40 tahun bernama Giselle—yang menurut saya penampilannya masih terlihat sangat muda dan tidak menunjukkan usia 40 tahunnya—menarik perhatian Dika serta membuatnya menaruh perasaan. Perselingkuhan terjadi. Waktu mengungkap segalanya yang tersembunyi, sekaligus menyembuhkan luka yang lama bersarang di hati. Kisah pilu yang dibalut dengan banyak hal manis.

Sunu mengarahkan film ini dengan sangat baik. Segalanya berjalan sempurna. Yang saya kagumi dari Hujan di Balik Jendela adalah sepanjang 88 menit, saya dapat menangkap segala emosi karakternya hanya dari sorot mata, suara parau, dan ekspresi wajah. Ketiga karakter yang menjadi poros dan fokus cerita membuat kisah ini tersampaikan dengan baik dan menarik. Meski latar belakang para tokoh tidak digambarkan dengan detail, namun mereka memiliki karakter yang kokoh dan mudah dipahami. Banyak pesan yang saya ambil dari film ini, tentang menyembuhkan luka, menghadapi seseorang yang memiliki trauma mendalam, berdamai dengan masa lalu serta keadaan, belajar melepas dan merelakan, dan yang paling penting dari semuanya adalah memaafkan.

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...