Dalam rangka menyambut hari kasih
sayang, KlikFilm menghadirkan tayangan romantis dari dunia perfilman Indonesia
sejak 13 Februari lalu. KlikFilm Productions merilis dua karya perdana mereka,
yaitu Tentang Rindu dan Hujan di Balik Jendela. Judul dari film Hujan di Balik
Jendela diadaptasi dari lagu Senandung dengan judul yang sama. Berdurasi sekitar
88 menit, film drama garapan Dyan Sunu Prastowo yang skenarionya ditulis oleh
Raditya Kurnia dan Budhita Arini ini dibintangi oleh Bio One, Clara Bernadeth,
dan Yasamin Jaseem.
Memiliki
alur cerita yang unik dengan sentuhan romansa dan beberapa kritik sosial di
sela-sela dialognya, film ini tidak hanya manis untuk ditonton, tetapi mampu
menciptakan ruang diskusi setelah selesai menontonnya. Hujan di Balik Jendela
tidak seremeh kisah cinta segitiga di usia dewasa muda, lebih dari itu, di
dalamnya kita akan menemukan suasana pasca kerusuhan Mei 1998 yang membawa luka
dan trauma mendalam bagi orang-orang yang melewatinya. Trauma yang tidak bisa
begitu saja disembuhkan oleh waktu. Kita akan dibawa untuk melihat rasa sakit,
luka, dan harapan untuk pulih. Untuk menggambarkannya, mungkin dapat saya
katakan bahwa ini film yang benar-benar menghanyutkan perasaan saya.
Baik
dari sinematografi yang halus dan ilustrasi musiknya yang dominan dengan suara
denting piano memberikan suasana yang syahdu sekaligus sendu. Efeknya benar-benar
membuat saya merasa masuk dalam adegan yang terus bergerak. Penjiwaan para
aktornya sungguh apik. Bio One hadir untuk memerankan seorang pria aktivis
bernama Dika yang memiliki kekasih dari keluarga terpandang, untuk itu ia merasa
harus mengorbankan idealismenya demi membahagiakan gadis yang membersamainya
selama ini. Alda sebagai kekasih Dika yang diperankan oleh Yasamin Jaseem mendukung
peran Bio One dengan menunjukkan chemistry yang luar biasa hangat di antara
keduanya.
Layaknya sebuah hubungan
yang selalu memiliki ujiannya tersendiri, saat Alda dan Dika tengah berbahagia
dengan komitmen yang dijalani, seseorang hadir dengan pesona dan masa lalunya
mengusik perasaan Dika. Clara Bernadeth yang digambarkan sebagai perempuan 40
tahun bernama Giselle—yang menurut saya penampilannya masih terlihat sangat
muda dan tidak menunjukkan usia 40 tahunnya—menarik perhatian Dika serta
membuatnya menaruh perasaan. Perselingkuhan terjadi. Waktu mengungkap segalanya
yang tersembunyi, sekaligus menyembuhkan luka yang lama bersarang di hati. Kisah
pilu yang dibalut dengan banyak hal manis.
Sunu mengarahkan film ini dengan sangat baik. Segalanya berjalan sempurna. Yang saya kagumi dari Hujan di Balik Jendela adalah sepanjang 88 menit, saya dapat menangkap segala emosi karakternya hanya dari sorot mata, suara parau, dan ekspresi wajah. Ketiga karakter yang menjadi poros dan fokus cerita membuat kisah ini tersampaikan dengan baik dan menarik. Meski latar belakang para tokoh tidak digambarkan dengan detail, namun mereka memiliki karakter yang kokoh dan mudah dipahami. Banyak pesan yang saya ambil dari film ini, tentang menyembuhkan luka, menghadapi seseorang yang memiliki trauma mendalam, berdamai dengan masa lalu serta keadaan, belajar melepas dan merelakan, dan yang paling penting dari semuanya adalah memaafkan.

