Rabu, 22 Mei 2024

Tuhan, Izinkan Aku Berdosa: Kiran Menggugat Tuhan, Sebuah Upaya Meruntuhkan Maskulinitas yang Toxic

 


    Bagaimana jika manusia bisa menggugat Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan? Sebuah narasi yang terdengar radikal. Namun, inilah pertanyaan kritis yang coba ditawarkan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Film yang saya tunggu-tunggu perilisannya di bioskop ketika penulis novelnya mengumumkan kalau kisah ini akan difilmkan. Tuhan, Izinkan Aku Berdosa ini dibuat berdasarkan novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan yang didasarkan pada kisah nyata. Pengalihwahanaan karya sastra berbentuk novel menjadi sebuah film semacam ini sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah, kenapa saya bilang tidak mudah, karena akan sangat sulit rasanya mengemas kisah dalam ratusan halaman untuk menjadi film yang durasinya kurang lebih hanya mencapai dua jam, tapi tampaknya Ifan Ismail yang menulis skenario film ini cukup berhasil membantu Hanung untuk tetap mempertahankan nyawa dari kisah Nidah Kirani, seorang Muslimah yang patah hati kepada Tuhan.

    Pertama-tama, hal yang ingin saya bahas di sini adalah sesuatu yang agak mengganjal dari Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, yaitu pengubahan judul film dari novel aslinya ini, tapi saya rasa ada alasan-alasan tersendiri mengapa Hanung mengubahnya, entah untuk alasan komersil, sensor, atau hal lainnya yang tidak saya ketahui. Walaupun pengubahan ini terdengar agak ‘aneh’, tapi sepenuhnya bisa saya maklumi. Seperti pilihan Kiran, yang sepenuhnya bisa saya maklumi sepanjang kisah ini bergulir. Kiran yang patah hati dan kecewa atas takdir yang dihadapinya sehingga memilih untuk menggugat Tuhan. Ngeri memang, tapi perjalanan Kiran yang diperlihatkan di sini juga akan membuai penontonnya ke dalam narasi bahwa hidup memang bukan perihal hitam dan putih atau baik dan buruk. Selalu ada yang abu-abu di tengahnya, sesuatu yang samar dan jarang sekali tersentuh, entah karena kita menolak untuk melihat keabu-abuan ini atau karena takut pada sesuatu yang samar-samar.

    Kiran memilih jalan lain, dia mengorek batas abu-abu itu lewat caranya mempertanyakan kebesaran Tuhan. Fase hidup yang barangkali tidak pernah terbayangkan oleh Kiran sendiri bahwa dia akan menghadapinya, karena sebelumnya dia adalah Muslimah yang sangat taat, yang begitu percaya pada kuasa Tuhan, yang selalu mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang dia anggap saleh, dan menghormati apa yang diajarkan padanya sejak kecil mengenai agama. Sayang sekali, serangkaian pengkhianat, tuduhan, kejahatan, pelecehan, kekerasan, dan kehilangan yang dirasakannya mendorong Kiran untuk jatuh dalam kubangan lumpur kekecewaan. Emosinya berkecamuk. Rasa amarah, kecewa, sedih, dan dendam menyelimuti hati Kiran. Dia merasa harus ada yang disalahkan atas kehancuran hidupnya saat itu, dan Kiran memilih untuk menyalahkan dan menggugat Tuhan. Kiran yang agamis mengubah dirinya menjadi perempuan berbahaya dalam misi pemberontakannya menantang Tuhan. Keinginan Kiran cuma satu, menguliti aib orang-orang munafik yang bertopengkan agama. Dia tidak peduli dengan caranya, bahkan meskipun untuk mencapai keinginannya itu dia harus menyiksa dirinya sendiri.

    Selain narasi agama yang dikembangkan, kisah Kiran juga membawa narasi perlawanan terhadap relasi kuasa yang timpang dan pengsubordinasian atau penomorduaaan perempuan dalam kehidupan. Sebagai perempuan, Kiran seringkali tidak dapat kesempatan untuk bersuara, berpendapat, atau pun memilih meskipun Kiran secara intelektual digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan nalar yang luar biasa. Posisinya dianggap sebagai manusia kelas dua, yang lemah dan harus terus patuh pada manusia di atasnya, dalam hal ini adalah laki-laki yang ada di sekelilingnya, apalagi Kiran sendiri hidup dalam lingkungan keagamaan yang terbilang cukup ‘saklek’. Kalau pun Kiran berani bersuara atau sudah bersuara, seringkali dia justru diabaikan karena dianggap tidak punya peran penting atau ucapannya dinilai hanya ungkapan emosi semata yang tidak bisa dipercaya.

    Kiran sadar hal ini. Untuk itulah, ketika dia memutuskan untuk menggugat Tuhan, sebenarnya narasi kisahnya meluas dan jadi lebih kompleks. Kalau dipikir-pikir, menurut saya, Tuhan yang digugat dan ditantang Kiran sebenarnya Tuhan yang berbentuk relasi kuasa yang dihadapinya selama ini. Relasi kuasa yang condong pada maskulinitas. Dia merasa ‘Tuhan’ tidak adil pada perempuan, karena dia menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana nasib perempuan ketika dianggap sebagai objek yang tidak tahu apa-apa sehingga bisa dibodohi, diselingkuhi, dipukuli, dan dimanfaatkan sebagai pemuas nafsu belaka. Perlawanan Kiran adalah juga perlawanan untuk meruntuhkan kekuasaan maskulinitas. Dalam upayanya yang ekstrem, dia ingin membuktikan bahwa maskulinitas ini sangat rapuh dan bisa jadi racun yang membahayakan.

    Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang tayang di bioskop sejak 22 Mei 2024 ini menurut saya adalah film yang patut dapat standing applause dan lebih banyak lagi penonton. Dari segi cerita, pengemasannya sudah sangat apik dan mengesankan, walaupun bergerak dengan alur yang maju-mundur, tapi kisah Kiran bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton, bahkan untuk penonton yang belum membaca bukunya. Emosi yang dituangkan juga benar-benar luar biasa, barangkali penyaluran emosi yang kuat ini juga bisa berhasil berkat penampilan para aktor dan aktris yang memerankan karakternya. Di sini, Aghniny Haque, yang berperan sebagai Nidah Kirani, tidak cuma terlihat menjiwai, tapi juga sanggup untuk mengajak penonton merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Kiran hanya dengan memperhatikan bagaimana gerak tubuh serta raut ekspresinya dalam menggambarkan emosi seorang Kiran. Lewat karakter-karakter pendukung yang masing-masing diperankan dengan piawai oleh para aktor dan aktris, film ini semakin lebih hidup. Saya sendiri ingin memberi apresiasi lebih banyak untuk Djenar Maesa Ayu yang memerankan peran Ami, karakter keibuan yang diperlihatkannya berhasil membuai dengan sangat hangat dan lembut perasaan penonton di tengah-tengah ketegangan yang dirasakan ketika Kiran menghadapi pergulatan iman yang dahsyat.

    Apresiasi juga pantas didapatkan oleh Hanung Bramantyo, yang berhasil memberikan lagi karya segar nan apik garapannya tanpa bumbu-bumbu klise percintaan yang sarat akan kepentingan komersial. Tentu Hanung sudah mempertimbangkan konsekuensi merilis film dari novel kontroversial ini secara luas, dan saya sangat menghargai pilihan tersebut karena akhirnya saya bisa menyaksikan kisah Kiran dalam bentuk visual yang ‘emosional’. Saya benar-benar kagum untuk yang satu ini dan akhirnya saya bisa berkata “Hanung is back!!!!!!”

    Tentu keberhasilannya juga tidak terlepas dari peran Ifan Ismail yang membantunya menyampaikan ironi dan kisah bertabur paradoks dalam perjalanan hidup Kiran dari sosok yang lekat dengan ajaran spiritual keagamaan hingga dia terjun bebas dalam jurang gelap bernama kekecewaan. Saya yakin banyak orang di luar sana pernah merasakan atau sedang merasakan fase hidup yang dihadapi Kiran, menghadapi kondisi spiritual yang naik-turun, bukan karena tidak percaya kuasa Tuhan, karena yang perlu diketahui adalah bahkan meskipun Kiran sering berkata dia marah dan menggugat Tuhan, justru sepanjang kisahnya, Kiran adalah orang yang paling sering mengingat Tuhan-nya dalam setiap perbuatan yang dia lakukan, meskipun itu perbuatan dosa sekali pun. Terdengar ironi? Ya, begitulah perjalanan Kiran yang layak disaksikan.

    Terakhir, saya yakin seluruh kru film sudah bekerja keras untuk mengemas kisah Kiran yang super sensitif bahasannya di negara ini sehingga bisa menjadi tontonan yang emosinya mampu menembus layar dan menyusup ke perasaan serta pemikiran penontonnya. Jadi, meskipun masih ada kekurangan dari segi visual effect, tapi saya rasa secuil kekurangan itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap pengalaman menonton saya dan tentu saja masih bisa dimaklumi.



Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...