Pada film I, kisahnya menceritakan pria bernama Sanjaya yang istrinya diculik secara misterius dan tak kunjung kembali setelah 6 bulan lamanya. Konflik yang dialami Sanjaya membuat kepribadiannya yang hangat dan menyenangkan berubah drastis, menunjukkan sisi gelap dalam dirinya yang mengerikan. Sementara di film Will, menyorot kisah Andra yang sedang mengalami masalah rumah tangga dan pekerjaan. Andra yang cukup tertekan bermaksud untuk refreshing dengan bersepeda ke tengah hutan, namun ia mengalami tragedi yang membuat tulangnya patah. Berlanjut di Survive, dua film sebelumnya memiliki titik temu yang saling berkaitan. Di sini, istri Andra dan istri Sanjaya yang diculik berusaha melarikan diri dari psikopat yang menyiksa mereka berdua. Anggy Umbara yang sebelumnya telah sukses menggarap film Warkop DKI Reborn, kini sukses menggarap film thriller pertamanya yang memiliki hasil sangat mengesankan. Alurnya yang realistis, berani mengangkat tabu, dan menyelipkan sarkasme yang kental terhadap kondisi Indonesia patut dipuji. Konflik-konflik yang dihadirkan sangat ‘relate’ dengan kehidupan masyarakat di perkotaan dan saya yakin sangat bisa dinikmati oleh penonton. Dari sisi emosional, tiga rangkaian film ini benar-benar mempengaruhi emosi saya selama menonton. Ketegangan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan yang diperlihatkan para pemerannya nampak nyata.
Selain itu, meski bukan sesuatu yang baru di dunia perfilman Indonesia, tema psikologi yang diterapkan dalam trilogi I Will Survive sudah berhasil dikemas dengan cara yang sangat apik. Penampilan para pemerannya, yang meskipun beberapa di antaranya baru pertama kali terlibat dalam pembuatan film thriller, cukup memuaskan. Omar Daniel, Onadio Leonardo, dan Morgan Oey telah mengerahkan kemampuan berperannya dengan sangat baik sebagai tokoh yang mengalami trauma, tekanan, kemarahan, dan ketakutan mendalam dalam fase hidup mereka. Akhir kata, saya dengan senang hati mengatakan bahwa trilogi I Will Survive membuat saya terkesan sekaligus tersanjung dengan hasilnya.
