Minggu, 20 Juni 2021

Review Series Hitam (2021)

Hitam
Sutradara: Sidharta Tata
Pemeran: Sara Fajira, Donny Damara


Horror thriller buatan Indonesia yang bagi saya sangat orisinil, jalan ceritanya mengesankan dan jauh melebihi ekspektasi saya sendiri. Sidharta Tata yang menggarap pembuatan Hitam perlu diacungi jempol karena kepiawaiannya membangun suasana yang semakin mengerikan di tiap episodenya. Series berjumlah empat episode yang baru dirilis secara perdana pada 19 Juni 2021 di KlikFilm ini dibintangi oleh Sara Fajira dan Donny Damara. Diawali dengan gambaran intens hubungan ayah-anak yang renggang, kesepian seorang lelaki paruh baya yang telah kehilangan istrinya dan tidak lagi akrab dengan putrinya, hingga suasana khas desa yang hangat dan lekat. Lalu suasana berganti di momen yang tepat dengan sedikit ketegangan dan kebingungan hingga penonton akan dibuat bertanya-tanya sekaligus sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Sidharta membuat saya merasa ikut berada dalam teror yang menghantui desa itu. Hitam menceritakan bagaimana sebuah desa yang awalnya tenteram dan minim dengan konflik tiba-tiba mendapat teror dari hilangnya orang-orang secara misterius dan matinya hewan-hewan ternak. Pak Dibyo, seorang lurah di desa yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan putrinya yang baru saja pulang dari London dan sibuk mengatur rencana untuk merevitalisasi pasar desa, harus menambah kesibukkannya untuk menangani kasus mengejutkan tersebut. Tika, putrinya, merasa ada yang berbeda dengan Dibyo karena ia seolah menutup-nutupi kasus dan melindungi orang yang berada di baliknya. Seiring berjalannya waktu, konflik demi konflik membawa titik terang mengenai kasus hingga mengungkap tentang siapa dalang dari hilangnya orang-orang di desa secara misterius. Semuanya mengarah ke Dibyo yang diduga sebagai pelaku, tetapi ternyata ada kenyataan yang jauh lebih rumit dari apa yang ada di dalam pikiran warga desa.
Sebenarnya, meski bergenre horror, tetapi Hitam tidak seperti film horror Indonesia yang mungkin kita sempat bayangkan. Tak ada hal-hal atau makhluk-makhluk mistis yang terlihat, ini lebih logis dan lebih terkesan sebagai film sains fiksi versi lokal yang memiliki hasil menakjubkan. Barangkali perlu diingatkan bahwa series ini mengandung beberapa adegan kekerasan dan sedikit sadis, seperti pembunuhan dan mutilasi, meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Konsep ceritanya sangat menarik. Saya benar-benar takjub sekaligus senang dengan adanya series Hitam ini. Kita akan dihadapkan pada persoalan zombie yang memasuki desa dan memakan warga. Melalui pendekatan yang Sidharta lakukan, keberadaan zombie yang biasanya hanya kita lihat dari film-film luar, mampu dibuat versi lokalnya yang terasa sangat masuk akal dan mudah diterima oleh penonton Indonesia. Tidak hanya persoalan tentang zombie, kritik mengenai sosial-politik juga diselipkan dalam series dengan menyinggung ‘uang kotor’, sengketa, polemik jabatan dan kekuasaan yang membawa petaka pertama di desa. Series yang akan amat disayangkan jika dilewatkan begitu saja, sebab Hitam menurut saya adalah series horror Indonesia yang ‘kelam’, seperti judul yang dipakainya.


Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...