Jumat, 13 Juni 2025

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup?



    Industri film Amerika Serikat banyak memproduksi film dengan genre thriller psikologi, salah satunya adalah Shutter Island. Film yang dirilis pada 2010 ini digarap oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dennis Lehane, cerita Shutter Island menyorot aksi Deputy Marshal bernama Edward Daniel yang datang ke rumah sakit jiwa terpencil khusus tahanan untuk menyelidiki kasus hilangnya salah satu pasien di Shutter Island. Namun, dalam penginvestigasiannya, Daniel menemukan fakta lain yang mengejutkan serta mengingatkannya pada masa lalu.

Shutter Island dalam tema misteri psikologinya menyajikan alur cerita yang kompleks dengan menghadirkan dua narasi berbeda. Penonton mungkin akan dibuat bingung dan terus bertanya-tanya tentang kebenaran cerita, bahkan hingga film ini berakhir. Mendapat rating 8,2/10 dari 1.179.969 kritik di IMDB dan 68% dari 259 kritik di Rotten Tomatoes, Shutter Island telah menghadirkan beberapa perdebatan dan teori-teori mengenai alur ceritanya yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Edward dijebak, ada pula yang berpendapat bahwa Edward benar-benar mengalami halusinasi karena trauma masa lalunya. Tetapi, barangkali penonton bebas ingin memilih ending yang mana untuk kisah hidup seorang Edward Daniels. Terlepas dari betapa rumitnya kisah Shutter Island, sebagai film yang mengangkat kehidupan dari perspektif seorang pria dengan trauma berat dan terjebak di rumah sakit jiwa yang dipenuhi pasien ‘berbahaya’, kita dapat mengambil pelajaran dari sosok Edward Daniel dan tokoh-tokoh di Shutter Island dalam menghadapi trauma.

Kamis, 05 Juni 2025

Gowok: Melampaui Asmara dan Seksualitas, Ini Tentang Kuasa Dalam Tubuh Perempuan

Bagaimana jika tubuh perempuan, yang selama ini dikendalikan dan ditafsirkan oleh laki-laki, justru menjadi sumber kekuatan paling subversif dalam membentuk peradaban?



    Gowok, film terbaru dari Hanung Bramantyo, adalah karya yang tak bisa hanya dilihat sebagai cerita tentang seks atau hubungan asmara. Gowok lebih dari itu—ia adalah lensa untuk menelusuri luka yang diwariskan, mimpi yang dibungkam, dan kekuasaan yang tumbuh dari tubuh-tubuh perempuan yang selama ini hanya dianggap bayang-bayang dalam sejarah.

    Dalam budaya Jawa, gowok dikenal sebagai perempuan pendamping para bangsawan dan priyayi muda yang belum menikah. Peran mereka secara tradisional tak hanya berkaitan dengan urusan ranjang, tapi juga mendidik soal rumah tangga. Di masanya, profesi gowok dipandang cukup terhormat, karena meskipun relasi seksual terjadi, gowok bukan pekerja seks komersial dalam pengertian modern. Mereka menjalani relasi jangka panjang, dipilih sendiri oleh para priyayi dan bangsawan, serta kadang terlibat dalam sistem patronase yang lebih kompleks. Namun, narasi populer kerap mereduksi mereka sebagai "perempuan simpanan" belaka. Di tangan Hanung, stereotip ini dibongkar dengan lembut tapi tajam—gowok di sini bukan objek pelengkap, mereka adalah subjek utama.

    Hanung menyuguhkan kisah perempuan bukan dalam balutan citra korban, tapi sebagai pemilik cerita. Seksualitas dalam film ini pun bukan sekadar hasrat belaka, melainkan ruang spiritual dan sosial yang membentuk tatanan. Di mana tubuh perempuan bukan hanya "dilihat", tetapi ditafsirkan sebagai medan perlawanan dan sumber kehidupan—baik secara harfiah maupun simbolik.

    Tanpa harus jatuh dalam eksploitasi visual, film ini justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana tubuh perempuan tak bisa lagi hanya dimiliki oleh narasi laki-laki. Seks dalam Gowok bukan erotisme murahan, tapi momen yang sakral dan transformatif—yang membentuk laki-laki menjadi lanange jagad, pemimpin sejati yang kelak dipercaya bisa membawa keluarganya menuju kesejahteraan. Namun, ironi kulturalnya ada di sini: perempuan disiapkan untuk mencetak laki-laki hebat, tapi mereka sendiri harus rela tinggal di bayang-bayang, sebagai konco wingking—teman di belakang.

    Tokoh-tokoh seperti Nyai Santi dan Nyai Ratri memperlihatkan bahwa menjadi gowok tak lantas berarti kehilangan prinsip. Mereka justru menggenggam kendali hidup mereka di tengah sistem yang ingin menghapus jejak mereka. Dengan sikap yang tenang tapi teguh, mereka membawa kita memahami bahwa harga diri dan kekuasaan bisa dibangun dari luka. Bahwa dendam yang diturunkan tak selalu bermuara pada kehancuran, tapi bisa menjadi bara yang menjaga semangat bertahan.

    Cinta dalam Gowok pun bukan romansa klise. Ia rumit, pahit, dan seringkali tak berujung bahagia. Karena cinta di sini tak lepas dari relasi kuasa, dari transaksi yang melekat pada tubuh perempuan. Tapi justru di sanalah mimpi muncul—tentang keinginan menentukan arah sendiri, memilih siapa yang layak mendampingi, dan akhirnya, memilih diri sendiri sebagai pusat dari segala kebebasan. Di balik narasi personal para tokoh, Gowok juga mengangkat isu sosial-politik yang kerap luput dari perbincangan sejarah. Ia menunjukkan bagaimana sistem sosial, moralitas, dan nilai-nilai patriarkis telah membentuk relasi antara tubuh, kuasa, dan kelas.

    Sementara itu, lewat pendekatan visual yang artistik—pencahayaan remang, pengambilan gambar yang intim tapi tak vulgar—film ini terasa lebih sebagai pengalaman batin daripada tontonan biasa. Simbolisme dalam film ini padat, mungkin terasa "berat" bagi sebagian penonton. Tapi justru karena itu Gowok punya kekuatan: ia menolak jadi hiburan yang mudah. Ia menuntut penontonnya untuk duduk lebih lama, berpikir lebih dalam, dan melihat perempuan bukan lagi sebagai tubuh untuk dikonsumsi, tapi jiwa yang menyimpan sejarah, kehormatan, dan kuasa.

    Gowok adalah film yang menggetarkan hati dan tidak nyaman—dan justru karena itu ia penting. Ia mengangkat kisah-kisah yang selama ini hanya dibisikkan di dapur atau disembunyikan dalam catatan kaki sejarah. Kini, kisah itu duduk di panggung utama, lantang, penuh luka, tapi juga penuh daya. Bagi siapa pun yang siap menyaksikan bagaimana perempuan bisa terus berdiri meski dunia mencoba meruntuhkannya, Gowok adalah ruang belajar, ruang merenung, sekaligus ruang untuk menghormati mereka yang telah terlalu lama dibungkam.

Rabu, 22 Mei 2024

Tuhan, Izinkan Aku Berdosa: Kiran Menggugat Tuhan, Sebuah Upaya Meruntuhkan Maskulinitas yang Toxic

 


    Bagaimana jika manusia bisa menggugat Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan? Sebuah narasi yang terdengar radikal. Namun, inilah pertanyaan kritis yang coba ditawarkan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Film yang saya tunggu-tunggu perilisannya di bioskop ketika penulis novelnya mengumumkan kalau kisah ini akan difilmkan. Tuhan, Izinkan Aku Berdosa ini dibuat berdasarkan novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan yang didasarkan pada kisah nyata. Pengalihwahanaan karya sastra berbentuk novel menjadi sebuah film semacam ini sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah, kenapa saya bilang tidak mudah, karena akan sangat sulit rasanya mengemas kisah dalam ratusan halaman untuk menjadi film yang durasinya kurang lebih hanya mencapai dua jam, tapi tampaknya Ifan Ismail yang menulis skenario film ini cukup berhasil membantu Hanung untuk tetap mempertahankan nyawa dari kisah Nidah Kirani, seorang Muslimah yang patah hati kepada Tuhan.

    Pertama-tama, hal yang ingin saya bahas di sini adalah sesuatu yang agak mengganjal dari Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, yaitu pengubahan judul film dari novel aslinya ini, tapi saya rasa ada alasan-alasan tersendiri mengapa Hanung mengubahnya, entah untuk alasan komersil, sensor, atau hal lainnya yang tidak saya ketahui. Walaupun pengubahan ini terdengar agak ‘aneh’, tapi sepenuhnya bisa saya maklumi. Seperti pilihan Kiran, yang sepenuhnya bisa saya maklumi sepanjang kisah ini bergulir. Kiran yang patah hati dan kecewa atas takdir yang dihadapinya sehingga memilih untuk menggugat Tuhan. Ngeri memang, tapi perjalanan Kiran yang diperlihatkan di sini juga akan membuai penontonnya ke dalam narasi bahwa hidup memang bukan perihal hitam dan putih atau baik dan buruk. Selalu ada yang abu-abu di tengahnya, sesuatu yang samar dan jarang sekali tersentuh, entah karena kita menolak untuk melihat keabu-abuan ini atau karena takut pada sesuatu yang samar-samar.

    Kiran memilih jalan lain, dia mengorek batas abu-abu itu lewat caranya mempertanyakan kebesaran Tuhan. Fase hidup yang barangkali tidak pernah terbayangkan oleh Kiran sendiri bahwa dia akan menghadapinya, karena sebelumnya dia adalah Muslimah yang sangat taat, yang begitu percaya pada kuasa Tuhan, yang selalu mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang dia anggap saleh, dan menghormati apa yang diajarkan padanya sejak kecil mengenai agama. Sayang sekali, serangkaian pengkhianat, tuduhan, kejahatan, pelecehan, kekerasan, dan kehilangan yang dirasakannya mendorong Kiran untuk jatuh dalam kubangan lumpur kekecewaan. Emosinya berkecamuk. Rasa amarah, kecewa, sedih, dan dendam menyelimuti hati Kiran. Dia merasa harus ada yang disalahkan atas kehancuran hidupnya saat itu, dan Kiran memilih untuk menyalahkan dan menggugat Tuhan. Kiran yang agamis mengubah dirinya menjadi perempuan berbahaya dalam misi pemberontakannya menantang Tuhan. Keinginan Kiran cuma satu, menguliti aib orang-orang munafik yang bertopengkan agama. Dia tidak peduli dengan caranya, bahkan meskipun untuk mencapai keinginannya itu dia harus menyiksa dirinya sendiri.

    Selain narasi agama yang dikembangkan, kisah Kiran juga membawa narasi perlawanan terhadap relasi kuasa yang timpang dan pengsubordinasian atau penomorduaaan perempuan dalam kehidupan. Sebagai perempuan, Kiran seringkali tidak dapat kesempatan untuk bersuara, berpendapat, atau pun memilih meskipun Kiran secara intelektual digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan nalar yang luar biasa. Posisinya dianggap sebagai manusia kelas dua, yang lemah dan harus terus patuh pada manusia di atasnya, dalam hal ini adalah laki-laki yang ada di sekelilingnya, apalagi Kiran sendiri hidup dalam lingkungan keagamaan yang terbilang cukup ‘saklek’. Kalau pun Kiran berani bersuara atau sudah bersuara, seringkali dia justru diabaikan karena dianggap tidak punya peran penting atau ucapannya dinilai hanya ungkapan emosi semata yang tidak bisa dipercaya.

    Kiran sadar hal ini. Untuk itulah, ketika dia memutuskan untuk menggugat Tuhan, sebenarnya narasi kisahnya meluas dan jadi lebih kompleks. Kalau dipikir-pikir, menurut saya, Tuhan yang digugat dan ditantang Kiran sebenarnya Tuhan yang berbentuk relasi kuasa yang dihadapinya selama ini. Relasi kuasa yang condong pada maskulinitas. Dia merasa ‘Tuhan’ tidak adil pada perempuan, karena dia menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana nasib perempuan ketika dianggap sebagai objek yang tidak tahu apa-apa sehingga bisa dibodohi, diselingkuhi, dipukuli, dan dimanfaatkan sebagai pemuas nafsu belaka. Perlawanan Kiran adalah juga perlawanan untuk meruntuhkan kekuasaan maskulinitas. Dalam upayanya yang ekstrem, dia ingin membuktikan bahwa maskulinitas ini sangat rapuh dan bisa jadi racun yang membahayakan.

    Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang tayang di bioskop sejak 22 Mei 2024 ini menurut saya adalah film yang patut dapat standing applause dan lebih banyak lagi penonton. Dari segi cerita, pengemasannya sudah sangat apik dan mengesankan, walaupun bergerak dengan alur yang maju-mundur, tapi kisah Kiran bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton, bahkan untuk penonton yang belum membaca bukunya. Emosi yang dituangkan juga benar-benar luar biasa, barangkali penyaluran emosi yang kuat ini juga bisa berhasil berkat penampilan para aktor dan aktris yang memerankan karakternya. Di sini, Aghniny Haque, yang berperan sebagai Nidah Kirani, tidak cuma terlihat menjiwai, tapi juga sanggup untuk mengajak penonton merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Kiran hanya dengan memperhatikan bagaimana gerak tubuh serta raut ekspresinya dalam menggambarkan emosi seorang Kiran. Lewat karakter-karakter pendukung yang masing-masing diperankan dengan piawai oleh para aktor dan aktris, film ini semakin lebih hidup. Saya sendiri ingin memberi apresiasi lebih banyak untuk Djenar Maesa Ayu yang memerankan peran Ami, karakter keibuan yang diperlihatkannya berhasil membuai dengan sangat hangat dan lembut perasaan penonton di tengah-tengah ketegangan yang dirasakan ketika Kiran menghadapi pergulatan iman yang dahsyat.

    Apresiasi juga pantas didapatkan oleh Hanung Bramantyo, yang berhasil memberikan lagi karya segar nan apik garapannya tanpa bumbu-bumbu klise percintaan yang sarat akan kepentingan komersial. Tentu Hanung sudah mempertimbangkan konsekuensi merilis film dari novel kontroversial ini secara luas, dan saya sangat menghargai pilihan tersebut karena akhirnya saya bisa menyaksikan kisah Kiran dalam bentuk visual yang ‘emosional’. Saya benar-benar kagum untuk yang satu ini dan akhirnya saya bisa berkata “Hanung is back!!!!!!”

    Tentu keberhasilannya juga tidak terlepas dari peran Ifan Ismail yang membantunya menyampaikan ironi dan kisah bertabur paradoks dalam perjalanan hidup Kiran dari sosok yang lekat dengan ajaran spiritual keagamaan hingga dia terjun bebas dalam jurang gelap bernama kekecewaan. Saya yakin banyak orang di luar sana pernah merasakan atau sedang merasakan fase hidup yang dihadapi Kiran, menghadapi kondisi spiritual yang naik-turun, bukan karena tidak percaya kuasa Tuhan, karena yang perlu diketahui adalah bahkan meskipun Kiran sering berkata dia marah dan menggugat Tuhan, justru sepanjang kisahnya, Kiran adalah orang yang paling sering mengingat Tuhan-nya dalam setiap perbuatan yang dia lakukan, meskipun itu perbuatan dosa sekali pun. Terdengar ironi? Ya, begitulah perjalanan Kiran yang layak disaksikan.

    Terakhir, saya yakin seluruh kru film sudah bekerja keras untuk mengemas kisah Kiran yang super sensitif bahasannya di negara ini sehingga bisa menjadi tontonan yang emosinya mampu menembus layar dan menyusup ke perasaan serta pemikiran penontonnya. Jadi, meskipun masih ada kekurangan dari segi visual effect, tapi saya rasa secuil kekurangan itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap pengalaman menonton saya dan tentu saja masih bisa dimaklumi.



Minggu, 07 Mei 2023

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

    


    Industri film Amerika Serikat banyak memproduksi film dengan genre thriller psikologi, salah satunya adalah Shutter Island. Film yang dirilis pada 2010 ini digarap oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dennis Lehane, cerita Shutter Island menyorot aksi Deputy Marshal bernama Edward Daniel yang datang ke rumah sakit jiwa terpencil khusus tahanan untuk menyelidiki kasus hilangnya salah satu pasien di Shutter Island. Namun, dalam penginvestigasiannya, Daniel menemukan fakta lain yang mengejutkan serta mengingatkannya pada masa lalu.

    Shutter Island dalam tema misteri psikologinya menyajikan alur cerita yang kompleks dengan menghadirkan dua narasi berbeda. Penonton mungkin akan dibuat bingung dan terus bertanya-tanya tentang kebenaran cerita, bahkan hingga film ini berakhir. Mendapat rating 8,2/10 dari 1.179.969 kritik di IMDB dan 68% dari 259 kritik di Rotten Tomatoes, Shutter Island telah menghadirkan beberapa perdebatan dan teori-teori mengenai alur ceritanya yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Edward dijebak, ada pula yang berpendapat bahwa Edward benar-benar mengalami halusinasi karena trauma masa lalunya. Tetapi, barangkali penonton bebas ingin memilih ending yang mana untuk kisah hidup seorang Edward Daniels. Terlepas dari betapa rumitnya kisah Shutter Island, sebagai film yang mengangkat kehidupan dari perspektif seorang pria dengan trauma berat dan terjebak di rumah sakit jiwa yang dipenuhi pasien ‘berbahaya’, kita dapat mengambil pelajaran dari sosok Edward Daniel dan tokoh-tokoh di Shutter Island dalam menghadapi trauma.

 

1.   Memahami Trauma dengan Berani Menghadapinya

Apa yang dirasakan oleh Daniels adalah trauma psikologis yang diakibatkan oleh peristiwa buruk yang dialaminya di masa lalu. Sebagai seorang veteran perang dunia, Daniel tentu punya banyak pengalaman buruk yang tidak bisa dilupakan oleh ingatan. Misalnya, selama perang, Daniel harus melihat ratusan orang tidak bersalah mati di depan matanya dan kekerasan yang dianggap wajar padahal sebenarnya tidak manusiawi. Belum lagi, kehilangan mendalam yang dialami oleh Daniel akibat kematian istrinya. Semua kejadian itu sebenarnya membuat jiwa dan nurani Daniel terguncang, namun apa yang dirasakannya berusaha disangkal oleh Daniel yang justru memperparah keadaan psikologisnya.

Daniel jadi menderita akibat emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengganggu di kepalanya. Efeknya pun membuat Daniel mengalami kondisi disosiatif, ia tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dan kehilangan beberapa ingatan yang penting. Dalam kasus Daniel, penyangkalan adalah salah satu faktor yang membuat kejiwaannya menjadi berantakan. Jika saja Daniel mampu menerima, menanggapi, dan menghadapinya mungkin akan ada jalan keluar untuk hidupnya. Sayangnya, upaya penyangkalan dan tidak berusaha memahami kalau ia mengalami trauma berat akhirnya membuat Daniel terjebak dalam pikiran, ilusi, dan cerita fiksinya sendiri.

 

2.   Menyikapi dan Menghadapi Orang-orang dengan Penyakit Kejiwaan

Chuck Aule sebagai rekan ‘fiktif’ Daniel dan Dokter Cawley adalah sosok yang sebenarnya bijak dan manusiawi. Mereka berkeyakinan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa sebenarnya merupakan orang-orang yang sakit dan perlu pemahaman khusus untuk menyikapi cara berpikir dan bertindak mereka. Dokter Cawley menyatakan dalam dialognya bahwa bagaimanapun orang-orang dengan gangguan jiwa itu masih manusia yang tidak ingin diperlakukan kasar dan buruk, tak peduli perbuatan buruk apa yang telah mereka lakukan, maka satu-satunya jalan untuk menghadapi mereka adalah dengan cara yang lembut, pengertian, tidak menghakimi, dan memandang mereka layaknya manusia ‘waras’ dan ‘normal’. Meski begitu, kebohongan dan pilihan Cawley dalam mengikuti halusinasi Daniel adalah cara yang salah untuk menghadapi orang-orang seperti Daniel sebab membuatnya justru semakin tidak bisa menerima kenyataan.

Sementara itu, Chuck hadir sebagai sosok rekan yang baik bagi Daniel. Karakternya yang selalu memberi dukungan dan pengertian pada Daniel adalah sikap yang semestinya dicontoh ketika kita menghadapi orang-orang yang sedang atau baru saja mengalami peristiwa buruk dalam hidupnya sehingga menimbulkan trauma, depresi, dan masalah mental lainnya. Bahkan Chuck sangat menunjukkan kepedulian dan rasa empatinya kepada Daniel yang sebenarnya adalah pasiennya sendiri. Bagi orang-orang yang jiwanya sedang terguncang dan sakit, sosok Chuck sudah pasti dilihatnya bagaikan malaikat penolong yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitannya. Barangkali muncul pertanyaan di kepala teman-teman, mengapa Daniel tidak juga sembuh bahkan setelah Chuck dan Dokter Cawley membantunya? Berkaitan dengan point pertama, Daniel masih menyangkal kenyataan yang seharusnya ia hadapi dan tidak mau memahami kondisinya sendiri. Itu yang menyebabkan upaya Chuck dan Dokter Cawley tidak membuahkan hasil yang baik.

 

3.   Memahami Diri Sendiri adalah Sebuah Jalan Penyelamatan

Rasa sakit yang tidak disembuhkan akan menimbulkan rasa sakit lain yang bisa jauh lebih parah dan hebat. Barangkali itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan Daniel. Ia menikahi seorang perempuan yang jiwanya sakit dan tidak berupaya menyembuhkan dirinya. Istrinya, Dolores, sejak awal bertemu Daniel memang sudah memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dolores tidak memahami kondisi dirinya dan dikuasai oleh pikiran serta ilusi gelap yang diciptakan kepalanya. Keadaan itu membuat Dolores mampu berbuat di luar kendali dan bisa tidak merasa bersalah.

Apa yang dilakukan Dolores di kemudian hari justru membuat Daniel yang sejak perang memiliki trauma mendalam kembali dihantam trauma yang lebih hebat dengan kematiannya dan anak-anak mereka. Rasa sakit di jiwa Dolores yang selama ini dirasakan membuat jiwa Daniel semakin sakit dengan perbuatannya, hingga akhirnya kondisi Daniel bertambah parah dengan mengalami disosiatif karena terlalu banyak menyangkal. Seandainya Dolores maupun Daniel mampu memahami dirinya sendiri dan berusaha menyembuhkan jiwa mereka yang terluka, keluarga dan hidup mereka mungkin bisa diselamatkan dan berakhir dengan baik.

 

4.   Menghentikan Rantai Penderitaan dengan Memaafkan dan Melepaskan

Pada akhirnya, yang membuat Daniel selalu menderita adalah dirinya sendiri yang kehilangan hidup dan jati diri akibat rasa bersalah yang ia sangkal mati-matian. Daniel tidak bisa lagi memandang hidup dengan cara yang jernih setelah gagal menyelamatkan anak-anaknya dan membunuh istrinya. Penyangkalan-penyangkalan yang dilakukan membawa Daniel tenggelam dalam jurang delusi yang kelam dan melenakan. Sebenarnya, penyangkalan adalah fase yang pasti dan wajar dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan, tetapi jika berlarut-larut dalam fase itu seperti yang dilakukan Daniel, akibatnya justru fatal.

Bagi orang-orang seperti Daniel, hal yang tepat dan dibutuhkan adalah penerimaan dan pemaafan dari dirinya sendiri. Bahkan dalam salah satu adegan, George Noyce yang terkurung di sel sudah berusaha meminta pria itu untuk melepaskan apa yang selama ini membelenggunya dalam penderitaan, yaitu rasa bersalah dan sesal. Namun, terlalu sulit Daniel melakukannya. Ia masih saja memilih untuk menyangkal dan tenggelam dalam ilusi dengan hidup sebagai Edward Daniel yang menyandang jabatan Deputy Marshal dan sedang menginvestigasi kasus di rumah sakit.

 

            Delusi yang dihadapi Daniel adalah mekanisme pertahanannya sendiri untuk menolak kenyataan yang menyakitkan dan rasa bersalah yang tidak bisa ia maafkan. Kalimat yang cukup ikonik dari film Shutter Island dan merupakan bagian penutup film adalah pertanyaan Daniel pada Chuck, ia bertanya “Which would be worse, to life as monster or to die as a good man?” Pertanyaan ini kemudian menunjukkan pilihan Daniel pada hidupnya. Alih-alih mau memaafkan dan menerima dirinya sendiri, ia lebih ingin menyangkal dan tetap bertahan pada identitas ciptaannya. Daripada hidup sebagai monster yang mengakui telah membunuh istrinya dan tersiksa dalam penyesalan yang tiada habis, Daniel memilih untuk mati sebagai ‘pria baik’ yang tidak mengingat perbuatan jahatnya.

            Shutter Island dengan jalan ceritanya yang rumit ini ingin menyampaikan kepada penonton tentang pentingnya memahami diri sendiri dan memaafkan. Entah itu memaafkan diri sendiri ataupun memaafkan orang lain. Dari perspektif Edward Daniel pula, cerita kemudian berjalan untuk menyampaikan kesulitan-kesulitan yang mungkin dirasakan orang-orang seperti Daniel dalam prosesnya memaafkan diri sendiri, proses yang sulit bahkan hampir mustahil dilakukan jika tanpa kemauan dari dalam diri dan dukungan orang-orang sekitar.

Selasa, 05 Oktober 2021

This Is Not A Burrial, It’s A Resurrection: Janda Tua dan Perlawanan Melawan Penggusuran

      Mantoa, seorang janda berusia 80 tahun yang hidup sendiri setelah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Ia kesepian dan diselimuti kesedihan yang teramat dalam. Hidupnya dihabiskan dalam sebuah pondok kecil, mungkin harapannya adalah bisa menua dan mati dalam kedamaian di pondok tersebut, tapi sayang beribu sayang, Mantoa harus menelan pil pahit dari realita. Desanya akan direlokasi, sebuah bendungan akan dibangun di sana. Dengan kulit-kulit keriputnya dan sisa-sisa semangat, Mantoa melawan, berusaha mempertahankan desa, berusaha mempertahankan pondok, berusaha mempertahankan makam suami dan anaknya.

        Dalam film drama fiksi This is Not A Burrial, It’s A Resurrection berdurasi 120 menit yang digarap oleh Lemohang Jeremiah Mosese ini, Mantoa digambarkan sebagai perwakilan dari korban-korban penggusuran. Keinginannya tak banyak, hanya ingin dibiarkan terus hidup di desanya, tempat ia lahir dan tumbuh berpuluh-puluh tahun. Mantoa ingin mati dan dimakamkan di sana, di tempat orang tua, kakek-nenek buyut, dan anaknya pun dimakamkan. Permintaannya sederhana dan mungkin serumit itu pula untuk diwujudkan.

    Awalnya film ini mungkin terlihat memiliki konflik yang sempit dan terfokus pada kehidupan Mantoa sebagai ibu yang menjalani masa berkabung setelah kehilangan anak. Perempuan tua ini kehilangan semangat hidup. Hari demi hari setelah kematian anaknya hanya sebuah pengulangan aktivitas yang menyesakkan dada. Ia mati berkali-kali setiap hari ditikam kesedihan dan kegelapan dalam hatinya. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa konflik di desa tentang pembangunan dan relokasi bisa membuat semangat hidupnya kembali lagi. Perempuan berusia 80 tahun ini menjadi yang paling lantang dan keras menolak relokasi yang digembar-gemborkan negara sebagai pembangunan dan kemajuan peradaban itu.

        Mantoa mungkin adalah kita semua. Ia hanya rakyat biasa, berasal dari kaum yang tak punya kuasa dan dimarjinalkan oleh negara. Hal yang dimilikinya hanya pondok, ruang hidup di desa, dan semangat yang tersimpan dalam dirinya yang sudah renta. Perlawanan yang dilakukannya mungkin tidak berakhir baik dan sesuai harapan, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di ending film sejak awal cerita atau bahkan ketika melihat sinopsisnya. Namun, meski saya pribadi sudah bisa menebaknya, bagi saya, film ini tetap sangat memikat hati. Jalan ceritanya memang minim dialog dan statis, mungkin bagi yang tidak suka film ‘sedatar’ ini, Resurrection akan jadi film yang membosankan. Tapi, bagi kalian yang menyukai film penuh makna dan dekat dengan realitas, Resurrection bisa dijadikan pilihan tontonan yang menarik. Seperti judulnya, film ini bukan bercerita tentang kematian ataupun penguburan, ini adalah tentang kebangkitan. Kebangkitan semangat dari generasi ke generasi yang diwariskan Mantoa kepada anak-anak di desanya.

Kamis, 23 September 2021

Review Trilogi I Will Survive

        Film trilogi garapan Anggy Umbara yang mengusung genre drama aksi thriller telah tayang di KlikFilm sejak Jumat, 16 Juli 2021. Tiga film yang berjudul I, Will, Survive ini menampilkan Omar Daniel, Amanda Rigby, Onadio Leonardo, Morgan Oey, Anggika Bolsterli, Cindy Nirmala, dan Teuku Rifnu Wikana sebagai pemeran utamanya. I, Will, Survive membagi film menjadi tiga babak dengan alur berbeda yang memiliki kaitan satu dengan yang lain. Konsep yang cukup menarik dan segar.

        Pada film I, kisahnya menceritakan pria bernama Sanjaya yang istrinya diculik secara misterius dan tak kunjung kembali setelah 6 bulan lamanya. Konflik yang dialami Sanjaya membuat kepribadiannya yang hangat dan menyenangkan berubah drastis, menunjukkan sisi gelap dalam dirinya yang mengerikan. Sementara di film Will, menyorot kisah Andra yang sedang mengalami masalah rumah tangga dan pekerjaan. Andra yang cukup tertekan bermaksud untuk refreshing dengan bersepeda ke tengah hutan, namun ia mengalami tragedi yang membuat tulangnya patah. Berlanjut di Survive, dua film sebelumnya memiliki titik temu yang saling berkaitan. Di sini, istri Andra dan istri Sanjaya yang diculik berusaha melarikan diri dari psikopat yang menyiksa mereka berdua. Anggy Umbara yang sebelumnya telah sukses menggarap film Warkop DKI Reborn, kini sukses menggarap film thriller pertamanya yang memiliki hasil sangat mengesankan. Alurnya yang realistis, berani mengangkat tabu, dan menyelipkan sarkasme yang kental terhadap kondisi Indonesia patut dipuji. Konflik-konflik yang dihadirkan sangat ‘relate’ dengan kehidupan masyarakat di perkotaan dan saya yakin sangat bisa dinikmati oleh penonton. Dari sisi emosional, tiga rangkaian film ini benar-benar mempengaruhi emosi saya selama menonton. Ketegangan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan yang diperlihatkan para pemerannya nampak nyata.

        Selain itu, meski bukan sesuatu yang baru di dunia perfilman Indonesia, tema psikologi yang diterapkan dalam trilogi I Will Survive sudah berhasil dikemas dengan cara yang sangat apik. Penampilan para pemerannya, yang meskipun beberapa di antaranya baru pertama kali terlibat dalam pembuatan film thriller, cukup memuaskan. Omar Daniel, Onadio Leonardo, dan Morgan Oey telah mengerahkan kemampuan berperannya dengan sangat baik sebagai tokoh yang mengalami trauma, tekanan, kemarahan, dan ketakutan mendalam dalam fase hidup mereka. Akhir kata, saya dengan senang hati mengatakan bahwa trilogi I Will Survive membuat saya terkesan sekaligus tersanjung dengan hasilnya.

Minggu, 20 Juni 2021

Review Series Hitam (2021)

Hitam
Sutradara: Sidharta Tata
Pemeran: Sara Fajira, Donny Damara


Horror thriller buatan Indonesia yang bagi saya sangat orisinil, jalan ceritanya mengesankan dan jauh melebihi ekspektasi saya sendiri. Sidharta Tata yang menggarap pembuatan Hitam perlu diacungi jempol karena kepiawaiannya membangun suasana yang semakin mengerikan di tiap episodenya. Series berjumlah empat episode yang baru dirilis secara perdana pada 19 Juni 2021 di KlikFilm ini dibintangi oleh Sara Fajira dan Donny Damara. Diawali dengan gambaran intens hubungan ayah-anak yang renggang, kesepian seorang lelaki paruh baya yang telah kehilangan istrinya dan tidak lagi akrab dengan putrinya, hingga suasana khas desa yang hangat dan lekat. Lalu suasana berganti di momen yang tepat dengan sedikit ketegangan dan kebingungan hingga penonton akan dibuat bertanya-tanya sekaligus sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Sidharta membuat saya merasa ikut berada dalam teror yang menghantui desa itu. Hitam menceritakan bagaimana sebuah desa yang awalnya tenteram dan minim dengan konflik tiba-tiba mendapat teror dari hilangnya orang-orang secara misterius dan matinya hewan-hewan ternak. Pak Dibyo, seorang lurah di desa yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan putrinya yang baru saja pulang dari London dan sibuk mengatur rencana untuk merevitalisasi pasar desa, harus menambah kesibukkannya untuk menangani kasus mengejutkan tersebut. Tika, putrinya, merasa ada yang berbeda dengan Dibyo karena ia seolah menutup-nutupi kasus dan melindungi orang yang berada di baliknya. Seiring berjalannya waktu, konflik demi konflik membawa titik terang mengenai kasus hingga mengungkap tentang siapa dalang dari hilangnya orang-orang di desa secara misterius. Semuanya mengarah ke Dibyo yang diduga sebagai pelaku, tetapi ternyata ada kenyataan yang jauh lebih rumit dari apa yang ada di dalam pikiran warga desa.
Sebenarnya, meski bergenre horror, tetapi Hitam tidak seperti film horror Indonesia yang mungkin kita sempat bayangkan. Tak ada hal-hal atau makhluk-makhluk mistis yang terlihat, ini lebih logis dan lebih terkesan sebagai film sains fiksi versi lokal yang memiliki hasil menakjubkan. Barangkali perlu diingatkan bahwa series ini mengandung beberapa adegan kekerasan dan sedikit sadis, seperti pembunuhan dan mutilasi, meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan. Konsep ceritanya sangat menarik. Saya benar-benar takjub sekaligus senang dengan adanya series Hitam ini. Kita akan dihadapkan pada persoalan zombie yang memasuki desa dan memakan warga. Melalui pendekatan yang Sidharta lakukan, keberadaan zombie yang biasanya hanya kita lihat dari film-film luar, mampu dibuat versi lokalnya yang terasa sangat masuk akal dan mudah diterima oleh penonton Indonesia. Tidak hanya persoalan tentang zombie, kritik mengenai sosial-politik juga diselipkan dalam series dengan menyinggung ‘uang kotor’, sengketa, polemik jabatan dan kekuasaan yang membawa petaka pertama di desa. Series yang akan amat disayangkan jika dilewatkan begitu saja, sebab Hitam menurut saya adalah series horror Indonesia yang ‘kelam’, seperti judul yang dipakainya.


Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...