Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup?
Obituari Bulan
Hidup sebagai puisi, mati sebagai bulan sabit.
Jumat, 13 Juni 2025
Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island
Kamis, 05 Juni 2025
Gowok: Melampaui Asmara dan Seksualitas, Ini Tentang Kuasa Dalam Tubuh Perempuan
Bagaimana jika tubuh perempuan, yang selama ini dikendalikan dan ditafsirkan oleh laki-laki, justru menjadi sumber kekuatan paling subversif dalam membentuk peradaban?
Gowok, film terbaru dari Hanung Bramantyo, adalah karya yang tak bisa hanya dilihat sebagai cerita tentang seks atau hubungan asmara. Gowok lebih dari itu—ia adalah lensa untuk menelusuri luka yang diwariskan, mimpi yang dibungkam, dan kekuasaan yang tumbuh dari tubuh-tubuh perempuan yang selama ini hanya dianggap bayang-bayang dalam sejarah.
Dalam budaya Jawa, gowok dikenal sebagai perempuan pendamping para bangsawan dan priyayi muda yang belum menikah. Peran mereka secara tradisional tak hanya berkaitan dengan urusan ranjang, tapi juga mendidik soal rumah tangga. Di masanya, profesi gowok dipandang cukup terhormat, karena meskipun relasi seksual terjadi, gowok bukan pekerja seks komersial dalam pengertian modern. Mereka menjalani relasi jangka panjang, dipilih sendiri oleh para priyayi dan bangsawan, serta kadang terlibat dalam sistem patronase yang lebih kompleks. Namun, narasi populer kerap mereduksi mereka sebagai "perempuan simpanan" belaka. Di tangan Hanung, stereotip ini dibongkar dengan lembut tapi tajam—gowok di sini bukan objek pelengkap, mereka adalah subjek utama.
Hanung menyuguhkan kisah perempuan bukan dalam balutan citra korban, tapi sebagai pemilik cerita. Seksualitas dalam film ini pun bukan sekadar hasrat belaka, melainkan ruang spiritual dan sosial yang membentuk tatanan. Di mana tubuh perempuan bukan hanya "dilihat", tetapi ditafsirkan sebagai medan perlawanan dan sumber kehidupan—baik secara harfiah maupun simbolik.
Tanpa harus jatuh dalam eksploitasi visual, film ini justru membuka ruang diskusi tentang bagaimana tubuh perempuan tak bisa lagi hanya dimiliki oleh narasi laki-laki. Seks dalam Gowok bukan erotisme murahan, tapi momen yang sakral dan transformatif—yang membentuk laki-laki menjadi lanange jagad, pemimpin sejati yang kelak dipercaya bisa membawa keluarganya menuju kesejahteraan. Namun, ironi kulturalnya ada di sini: perempuan disiapkan untuk mencetak laki-laki hebat, tapi mereka sendiri harus rela tinggal di bayang-bayang, sebagai konco wingking—teman di belakang.
Tokoh-tokoh seperti Nyai Santi dan Nyai Ratri memperlihatkan bahwa menjadi gowok tak lantas berarti kehilangan prinsip. Mereka justru menggenggam kendali hidup mereka di tengah sistem yang ingin menghapus jejak mereka. Dengan sikap yang tenang tapi teguh, mereka membawa kita memahami bahwa harga diri dan kekuasaan bisa dibangun dari luka. Bahwa dendam yang diturunkan tak selalu bermuara pada kehancuran, tapi bisa menjadi bara yang menjaga semangat bertahan.
Cinta dalam Gowok pun bukan romansa klise. Ia rumit, pahit, dan seringkali tak berujung bahagia. Karena cinta di sini tak lepas dari relasi kuasa, dari transaksi yang melekat pada tubuh perempuan. Tapi justru di sanalah mimpi muncul—tentang keinginan menentukan arah sendiri, memilih siapa yang layak mendampingi, dan akhirnya, memilih diri sendiri sebagai pusat dari segala kebebasan. Di balik narasi personal para tokoh, Gowok juga mengangkat isu sosial-politik yang kerap luput dari perbincangan sejarah. Ia menunjukkan bagaimana sistem sosial, moralitas, dan nilai-nilai patriarkis telah membentuk relasi antara tubuh, kuasa, dan kelas.
Sementara itu, lewat pendekatan visual yang artistik—pencahayaan remang, pengambilan gambar yang intim tapi tak vulgar—film ini terasa lebih sebagai pengalaman batin daripada tontonan biasa. Simbolisme dalam film ini padat, mungkin terasa "berat" bagi sebagian penonton. Tapi justru karena itu Gowok punya kekuatan: ia menolak jadi hiburan yang mudah. Ia menuntut penontonnya untuk duduk lebih lama, berpikir lebih dalam, dan melihat perempuan bukan lagi sebagai tubuh untuk dikonsumsi, tapi jiwa yang menyimpan sejarah, kehormatan, dan kuasa.
Gowok adalah film yang menggetarkan hati dan tidak nyaman—dan justru karena itu ia penting. Ia mengangkat kisah-kisah yang selama ini hanya dibisikkan di dapur atau disembunyikan dalam catatan kaki sejarah. Kini, kisah itu duduk di panggung utama, lantang, penuh luka, tapi juga penuh daya. Bagi siapa pun yang siap menyaksikan bagaimana perempuan bisa terus berdiri meski dunia mencoba meruntuhkannya, Gowok adalah ruang belajar, ruang merenung, sekaligus ruang untuk menghormati mereka yang telah terlalu lama dibungkam.
Rabu, 22 Mei 2024
Tuhan, Izinkan Aku Berdosa: Kiran Menggugat Tuhan, Sebuah Upaya Meruntuhkan Maskulinitas yang Toxic
Bagaimana jika manusia bisa menggugat Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan? Sebuah narasi yang terdengar radikal. Namun, inilah pertanyaan kritis yang coba ditawarkan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Film yang saya tunggu-tunggu perilisannya di bioskop ketika penulis novelnya mengumumkan kalau kisah ini akan difilmkan. Tuhan, Izinkan Aku Berdosa ini dibuat berdasarkan novel berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan yang didasarkan pada kisah nyata. Pengalihwahanaan karya sastra berbentuk novel menjadi sebuah film semacam ini sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah, kenapa saya bilang tidak mudah, karena akan sangat sulit rasanya mengemas kisah dalam ratusan halaman untuk menjadi film yang durasinya kurang lebih hanya mencapai dua jam, tapi tampaknya Ifan Ismail yang menulis skenario film ini cukup berhasil membantu Hanung untuk tetap mempertahankan nyawa dari kisah Nidah Kirani, seorang Muslimah yang patah hati kepada Tuhan.
Pertama-tama, hal yang ingin saya bahas di sini adalah sesuatu yang agak mengganjal dari Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, yaitu pengubahan judul film dari novel aslinya ini, tapi saya rasa ada alasan-alasan tersendiri mengapa Hanung mengubahnya, entah untuk alasan komersil, sensor, atau hal lainnya yang tidak saya ketahui. Walaupun pengubahan ini terdengar agak ‘aneh’, tapi sepenuhnya bisa saya maklumi. Seperti pilihan Kiran, yang sepenuhnya bisa saya maklumi sepanjang kisah ini bergulir. Kiran yang patah hati dan kecewa atas takdir yang dihadapinya sehingga memilih untuk menggugat Tuhan. Ngeri memang, tapi perjalanan Kiran yang diperlihatkan di sini juga akan membuai penontonnya ke dalam narasi bahwa hidup memang bukan perihal hitam dan putih atau baik dan buruk. Selalu ada yang abu-abu di tengahnya, sesuatu yang samar dan jarang sekali tersentuh, entah karena kita menolak untuk melihat keabu-abuan ini atau karena takut pada sesuatu yang samar-samar.
Kiran memilih jalan lain, dia mengorek batas abu-abu itu lewat caranya mempertanyakan kebesaran Tuhan. Fase hidup yang barangkali tidak pernah terbayangkan oleh Kiran sendiri bahwa dia akan menghadapinya, karena sebelumnya dia adalah Muslimah yang sangat taat, yang begitu percaya pada kuasa Tuhan, yang selalu mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang dia anggap saleh, dan menghormati apa yang diajarkan padanya sejak kecil mengenai agama. Sayang sekali, serangkaian pengkhianat, tuduhan, kejahatan, pelecehan, kekerasan, dan kehilangan yang dirasakannya mendorong Kiran untuk jatuh dalam kubangan lumpur kekecewaan. Emosinya berkecamuk. Rasa amarah, kecewa, sedih, dan dendam menyelimuti hati Kiran. Dia merasa harus ada yang disalahkan atas kehancuran hidupnya saat itu, dan Kiran memilih untuk menyalahkan dan menggugat Tuhan. Kiran yang agamis mengubah dirinya menjadi perempuan berbahaya dalam misi pemberontakannya menantang Tuhan. Keinginan Kiran cuma satu, menguliti aib orang-orang munafik yang bertopengkan agama. Dia tidak peduli dengan caranya, bahkan meskipun untuk mencapai keinginannya itu dia harus menyiksa dirinya sendiri.
Selain narasi agama yang dikembangkan, kisah Kiran juga membawa narasi perlawanan terhadap relasi kuasa yang timpang dan pengsubordinasian atau penomorduaaan perempuan dalam kehidupan. Sebagai perempuan, Kiran seringkali tidak dapat kesempatan untuk bersuara, berpendapat, atau pun memilih meskipun Kiran secara intelektual digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan nalar yang luar biasa. Posisinya dianggap sebagai manusia kelas dua, yang lemah dan harus terus patuh pada manusia di atasnya, dalam hal ini adalah laki-laki yang ada di sekelilingnya, apalagi Kiran sendiri hidup dalam lingkungan keagamaan yang terbilang cukup ‘saklek’. Kalau pun Kiran berani bersuara atau sudah bersuara, seringkali dia justru diabaikan karena dianggap tidak punya peran penting atau ucapannya dinilai hanya ungkapan emosi semata yang tidak bisa dipercaya.
Kiran sadar hal ini. Untuk itulah, ketika dia memutuskan untuk menggugat Tuhan, sebenarnya narasi kisahnya meluas dan jadi lebih kompleks. Kalau dipikir-pikir, menurut saya, Tuhan yang digugat dan ditantang Kiran sebenarnya Tuhan yang berbentuk relasi kuasa yang dihadapinya selama ini. Relasi kuasa yang condong pada maskulinitas. Dia merasa ‘Tuhan’ tidak adil pada perempuan, karena dia menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana nasib perempuan ketika dianggap sebagai objek yang tidak tahu apa-apa sehingga bisa dibodohi, diselingkuhi, dipukuli, dan dimanfaatkan sebagai pemuas nafsu belaka. Perlawanan Kiran adalah juga perlawanan untuk meruntuhkan kekuasaan maskulinitas. Dalam upayanya yang ekstrem, dia ingin membuktikan bahwa maskulinitas ini sangat rapuh dan bisa jadi racun yang membahayakan.
Film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa yang tayang di bioskop sejak 22 Mei 2024 ini menurut saya adalah film yang patut dapat standing applause dan lebih banyak lagi penonton. Dari segi cerita, pengemasannya sudah sangat apik dan mengesankan, walaupun bergerak dengan alur yang maju-mundur, tapi kisah Kiran bisa tersampaikan dengan baik kepada penonton, bahkan untuk penonton yang belum membaca bukunya. Emosi yang dituangkan juga benar-benar luar biasa, barangkali penyaluran emosi yang kuat ini juga bisa berhasil berkat penampilan para aktor dan aktris yang memerankan karakternya. Di sini, Aghniny Haque, yang berperan sebagai Nidah Kirani, tidak cuma terlihat menjiwai, tapi juga sanggup untuk mengajak penonton merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Kiran hanya dengan memperhatikan bagaimana gerak tubuh serta raut ekspresinya dalam menggambarkan emosi seorang Kiran. Lewat karakter-karakter pendukung yang masing-masing diperankan dengan piawai oleh para aktor dan aktris, film ini semakin lebih hidup. Saya sendiri ingin memberi apresiasi lebih banyak untuk Djenar Maesa Ayu yang memerankan peran Ami, karakter keibuan yang diperlihatkannya berhasil membuai dengan sangat hangat dan lembut perasaan penonton di tengah-tengah ketegangan yang dirasakan ketika Kiran menghadapi pergulatan iman yang dahsyat.
Apresiasi juga pantas didapatkan oleh Hanung Bramantyo, yang berhasil memberikan lagi karya segar nan apik garapannya tanpa bumbu-bumbu klise percintaan yang sarat akan kepentingan komersial. Tentu Hanung sudah mempertimbangkan konsekuensi merilis film dari novel kontroversial ini secara luas, dan saya sangat menghargai pilihan tersebut karena akhirnya saya bisa menyaksikan kisah Kiran dalam bentuk visual yang ‘emosional’. Saya benar-benar kagum untuk yang satu ini dan akhirnya saya bisa berkata “Hanung is back!!!!!!”
Tentu keberhasilannya juga tidak terlepas dari peran Ifan Ismail yang membantunya menyampaikan ironi dan kisah bertabur paradoks dalam perjalanan hidup Kiran dari sosok yang lekat dengan ajaran spiritual keagamaan hingga dia terjun bebas dalam jurang gelap bernama kekecewaan. Saya yakin banyak orang di luar sana pernah merasakan atau sedang merasakan fase hidup yang dihadapi Kiran, menghadapi kondisi spiritual yang naik-turun, bukan karena tidak percaya kuasa Tuhan, karena yang perlu diketahui adalah bahkan meskipun Kiran sering berkata dia marah dan menggugat Tuhan, justru sepanjang kisahnya, Kiran adalah orang yang paling sering mengingat Tuhan-nya dalam setiap perbuatan yang dia lakukan, meskipun itu perbuatan dosa sekali pun. Terdengar ironi? Ya, begitulah perjalanan Kiran yang layak disaksikan.
Terakhir, saya yakin seluruh kru film sudah bekerja keras untuk mengemas kisah Kiran yang super sensitif bahasannya di negara ini sehingga bisa menjadi tontonan yang emosinya mampu menembus layar dan menyusup ke perasaan serta pemikiran penontonnya. Jadi, meskipun masih ada kekurangan dari segi visual effect, tapi saya rasa secuil kekurangan itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap pengalaman menonton saya dan tentu saja masih bisa dimaklumi.Minggu, 07 Mei 2023
Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island
Industri film Amerika Serikat banyak memproduksi film dengan genre thriller psikologi, salah satunya adalah Shutter Island. Film yang dirilis pada 2010 ini digarap oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dennis Lehane, cerita Shutter Island menyorot aksi Deputy Marshal bernama Edward Daniel yang datang ke rumah sakit jiwa terpencil khusus tahanan untuk menyelidiki kasus hilangnya salah satu pasien di Shutter Island. Namun, dalam penginvestigasiannya, Daniel menemukan fakta lain yang mengejutkan serta mengingatkannya pada masa lalu.
Shutter Island dalam tema misteri psikologinya menyajikan alur cerita yang kompleks dengan menghadirkan dua narasi berbeda. Penonton mungkin akan dibuat bingung dan terus bertanya-tanya tentang kebenaran cerita, bahkan hingga film ini berakhir. Mendapat rating 8,2/10 dari 1.179.969 kritik di IMDB dan 68% dari 259 kritik di Rotten Tomatoes, Shutter Island telah menghadirkan beberapa perdebatan dan teori-teori mengenai alur ceritanya yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Edward dijebak, ada pula yang berpendapat bahwa Edward benar-benar mengalami halusinasi karena trauma masa lalunya. Tetapi, barangkali penonton bebas ingin memilih ending yang mana untuk kisah hidup seorang Edward Daniels. Terlepas dari betapa rumitnya kisah Shutter Island, sebagai film yang mengangkat kehidupan dari perspektif seorang pria dengan trauma berat dan terjebak di rumah sakit jiwa yang dipenuhi pasien ‘berbahaya’, kita dapat mengambil pelajaran dari sosok Edward Daniel dan tokoh-tokoh di Shutter Island dalam menghadapi trauma.
1.
Memahami
Trauma dengan Berani Menghadapinya
Apa yang dirasakan oleh Daniels
adalah trauma psikologis yang diakibatkan oleh peristiwa buruk yang dialaminya
di masa lalu. Sebagai seorang veteran perang dunia, Daniel tentu punya banyak
pengalaman buruk yang tidak bisa dilupakan oleh ingatan. Misalnya, selama
perang, Daniel harus melihat ratusan orang tidak bersalah mati di depan matanya
dan kekerasan yang dianggap wajar padahal sebenarnya tidak manusiawi. Belum
lagi, kehilangan mendalam yang dialami oleh Daniel akibat kematian istrinya.
Semua kejadian itu sebenarnya membuat jiwa dan nurani Daniel terguncang, namun
apa yang dirasakannya berusaha disangkal oleh Daniel yang justru memperparah
keadaan psikologisnya.
Daniel jadi menderita akibat emosi,
ingatan, dan kecemasan yang mengganggu di kepalanya. Efeknya pun membuat Daniel
mengalami kondisi disosiatif, ia tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri
dan kehilangan beberapa ingatan yang penting. Dalam kasus Daniel, penyangkalan
adalah salah satu faktor yang membuat kejiwaannya menjadi berantakan. Jika saja
Daniel mampu menerima, menanggapi, dan menghadapinya mungkin akan ada jalan
keluar untuk hidupnya. Sayangnya, upaya penyangkalan dan tidak berusaha
memahami kalau ia mengalami trauma berat akhirnya membuat Daniel terjebak dalam
pikiran, ilusi, dan cerita fiksinya sendiri.
2.
Menyikapi
dan Menghadapi Orang-orang dengan Penyakit Kejiwaan
Chuck Aule sebagai rekan ‘fiktif’
Daniel dan Dokter Cawley adalah sosok yang sebenarnya bijak dan manusiawi.
Mereka berkeyakinan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa sebenarnya merupakan
orang-orang yang sakit dan perlu pemahaman khusus untuk menyikapi cara berpikir
dan bertindak mereka. Dokter Cawley menyatakan dalam dialognya bahwa
bagaimanapun orang-orang dengan gangguan jiwa itu masih manusia yang tidak
ingin diperlakukan kasar dan buruk, tak peduli perbuatan buruk apa yang telah
mereka lakukan, maka satu-satunya jalan untuk menghadapi mereka adalah dengan
cara yang lembut, pengertian, tidak menghakimi, dan memandang mereka layaknya
manusia ‘waras’ dan ‘normal’. Meski begitu, kebohongan dan pilihan Cawley dalam
mengikuti halusinasi Daniel adalah cara yang salah untuk menghadapi orang-orang
seperti Daniel sebab membuatnya justru semakin tidak bisa menerima kenyataan.
Sementara itu, Chuck hadir sebagai
sosok rekan yang baik bagi Daniel. Karakternya yang selalu memberi dukungan dan
pengertian pada Daniel adalah sikap yang semestinya dicontoh ketika kita
menghadapi orang-orang yang sedang atau baru saja mengalami peristiwa buruk dalam
hidupnya sehingga menimbulkan trauma, depresi, dan masalah mental lainnya.
Bahkan Chuck sangat menunjukkan kepedulian dan rasa empatinya kepada Daniel
yang sebenarnya adalah pasiennya sendiri. Bagi orang-orang yang jiwanya sedang
terguncang dan sakit, sosok Chuck sudah pasti dilihatnya bagaikan malaikat
penolong yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitannya. Barangkali muncul
pertanyaan di kepala teman-teman, mengapa Daniel tidak juga sembuh bahkan
setelah Chuck dan Dokter Cawley membantunya? Berkaitan dengan point pertama,
Daniel masih menyangkal kenyataan yang seharusnya ia hadapi dan tidak mau
memahami kondisinya sendiri. Itu yang menyebabkan upaya Chuck dan Dokter Cawley
tidak membuahkan hasil yang baik.
3.
Memahami
Diri Sendiri adalah Sebuah Jalan Penyelamatan
Rasa sakit yang tidak disembuhkan
akan menimbulkan rasa sakit lain yang bisa jauh lebih parah dan hebat.
Barangkali itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan Daniel.
Ia menikahi seorang perempuan yang jiwanya sakit dan tidak berupaya
menyembuhkan dirinya. Istrinya, Dolores, sejak awal bertemu Daniel memang sudah
memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dolores tidak
memahami kondisi dirinya dan dikuasai oleh pikiran serta ilusi gelap yang diciptakan
kepalanya. Keadaan itu membuat Dolores mampu berbuat di luar kendali dan bisa
tidak merasa bersalah.
Apa yang dilakukan Dolores di
kemudian hari justru membuat Daniel yang sejak perang memiliki trauma mendalam
kembali dihantam trauma yang lebih hebat dengan kematiannya dan anak-anak
mereka. Rasa sakit di jiwa Dolores yang selama ini dirasakan membuat jiwa
Daniel semakin sakit dengan perbuatannya, hingga akhirnya kondisi Daniel
bertambah parah dengan mengalami disosiatif karena terlalu banyak menyangkal.
Seandainya Dolores maupun Daniel mampu memahami dirinya sendiri dan berusaha
menyembuhkan jiwa mereka yang terluka, keluarga dan hidup mereka mungkin bisa
diselamatkan dan berakhir dengan baik.
4.
Menghentikan
Rantai Penderitaan dengan Memaafkan dan Melepaskan
Pada akhirnya, yang membuat Daniel
selalu menderita adalah dirinya sendiri yang kehilangan hidup dan jati diri
akibat rasa bersalah yang ia sangkal mati-matian. Daniel tidak bisa lagi
memandang hidup dengan cara yang jernih setelah gagal menyelamatkan
anak-anaknya dan membunuh istrinya. Penyangkalan-penyangkalan yang dilakukan
membawa Daniel tenggelam dalam jurang delusi yang kelam dan melenakan.
Sebenarnya, penyangkalan adalah fase yang pasti dan wajar dirasakan oleh
orang-orang yang ditinggalkan, tetapi jika berlarut-larut dalam fase itu
seperti yang dilakukan Daniel, akibatnya justru fatal.
Bagi orang-orang seperti Daniel, hal
yang tepat dan dibutuhkan adalah penerimaan dan pemaafan dari dirinya sendiri.
Bahkan dalam salah satu adegan, George Noyce yang terkurung di sel sudah
berusaha meminta pria itu untuk melepaskan apa yang selama ini membelenggunya
dalam penderitaan, yaitu rasa bersalah dan sesal. Namun, terlalu sulit Daniel
melakukannya. Ia masih saja memilih untuk menyangkal dan tenggelam dalam ilusi
dengan hidup sebagai Edward Daniel yang menyandang jabatan Deputy Marshal dan
sedang menginvestigasi kasus di rumah sakit.
Delusi yang dihadapi Daniel adalah
mekanisme pertahanannya sendiri untuk menolak kenyataan yang menyakitkan dan
rasa bersalah yang tidak bisa ia maafkan. Kalimat yang cukup ikonik dari film
Shutter Island dan merupakan bagian penutup film adalah pertanyaan Daniel pada
Chuck, ia bertanya “Which would be worse, to life as monster or to die as a
good man?” Pertanyaan ini kemudian menunjukkan pilihan Daniel pada hidupnya.
Alih-alih mau memaafkan dan menerima dirinya sendiri, ia lebih ingin menyangkal
dan tetap bertahan pada identitas ciptaannya. Daripada hidup sebagai monster
yang mengakui telah membunuh istrinya dan tersiksa dalam penyesalan yang tiada
habis, Daniel memilih untuk mati sebagai ‘pria baik’ yang tidak mengingat
perbuatan jahatnya.
Shutter Island dengan jalan
ceritanya yang rumit ini ingin menyampaikan kepada penonton tentang pentingnya
memahami diri sendiri dan memaafkan. Entah itu memaafkan diri sendiri ataupun
memaafkan orang lain. Dari perspektif Edward Daniel pula, cerita kemudian
berjalan untuk menyampaikan kesulitan-kesulitan yang mungkin dirasakan
orang-orang seperti Daniel dalam prosesnya memaafkan diri sendiri, proses yang
sulit bahkan hampir mustahil dilakukan jika tanpa kemauan dari dalam diri dan
dukungan orang-orang sekitar.
Selasa, 05 Oktober 2021
This Is Not A Burrial, It’s A Resurrection: Janda Tua dan Perlawanan Melawan Penggusuran
Mantoa, seorang janda berusia 80 tahun yang hidup sendiri setelah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Ia kesepian dan diselimuti kesedihan yang teramat dalam. Hidupnya dihabiskan dalam sebuah pondok kecil, mungkin harapannya adalah bisa menua dan mati dalam kedamaian di pondok tersebut, tapi sayang beribu sayang, Mantoa harus menelan pil pahit dari realita. Desanya akan direlokasi, sebuah bendungan akan dibangun di sana. Dengan kulit-kulit keriputnya dan sisa-sisa semangat, Mantoa melawan, berusaha mempertahankan desa, berusaha mempertahankan pondok, berusaha mempertahankan makam suami dan anaknya.
Dalam film drama fiksi This is Not A Burrial, It’s A Resurrection berdurasi 120 menit yang digarap oleh Lemohang Jeremiah Mosese ini, Mantoa digambarkan sebagai perwakilan dari korban-korban penggusuran. Keinginannya tak banyak, hanya ingin dibiarkan terus hidup di desanya, tempat ia lahir dan tumbuh berpuluh-puluh tahun. Mantoa ingin mati dan dimakamkan di sana, di tempat orang tua, kakek-nenek buyut, dan anaknya pun dimakamkan. Permintaannya sederhana dan mungkin serumit itu pula untuk diwujudkan.
Awalnya film ini mungkin terlihat memiliki konflik yang sempit dan terfokus pada kehidupan Mantoa sebagai ibu yang menjalani masa berkabung setelah kehilangan anak. Perempuan tua ini kehilangan semangat hidup. Hari demi hari setelah kematian anaknya hanya sebuah pengulangan aktivitas yang menyesakkan dada. Ia mati berkali-kali setiap hari ditikam kesedihan dan kegelapan dalam hatinya. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa konflik di desa tentang pembangunan dan relokasi bisa membuat semangat hidupnya kembali lagi. Perempuan berusia 80 tahun ini menjadi yang paling lantang dan keras menolak relokasi yang digembar-gemborkan negara sebagai pembangunan dan kemajuan peradaban itu.
Mantoa mungkin adalah kita semua. Ia hanya rakyat biasa, berasal dari kaum yang tak punya kuasa dan dimarjinalkan oleh negara. Hal yang dimilikinya hanya pondok, ruang hidup di desa, dan semangat yang tersimpan dalam dirinya yang sudah renta. Perlawanan yang dilakukannya mungkin tidak berakhir baik dan sesuai harapan, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di ending film sejak awal cerita atau bahkan ketika melihat sinopsisnya. Namun, meski saya pribadi sudah bisa menebaknya, bagi saya, film ini tetap sangat memikat hati. Jalan ceritanya memang minim dialog dan statis, mungkin bagi yang tidak suka film ‘sedatar’ ini, Resurrection akan jadi film yang membosankan. Tapi, bagi kalian yang menyukai film penuh makna dan dekat dengan realitas, Resurrection bisa dijadikan pilihan tontonan yang menarik. Seperti judulnya, film ini bukan bercerita tentang kematian ataupun penguburan, ini adalah tentang kebangkitan. Kebangkitan semangat dari generasi ke generasi yang diwariskan Mantoa kepada anak-anak di desanya.
Kamis, 23 September 2021
Review Trilogi I Will Survive
Pada film I, kisahnya menceritakan pria bernama Sanjaya yang istrinya diculik secara misterius dan tak kunjung kembali setelah 6 bulan lamanya. Konflik yang dialami Sanjaya membuat kepribadiannya yang hangat dan menyenangkan berubah drastis, menunjukkan sisi gelap dalam dirinya yang mengerikan. Sementara di film Will, menyorot kisah Andra yang sedang mengalami masalah rumah tangga dan pekerjaan. Andra yang cukup tertekan bermaksud untuk refreshing dengan bersepeda ke tengah hutan, namun ia mengalami tragedi yang membuat tulangnya patah. Berlanjut di Survive, dua film sebelumnya memiliki titik temu yang saling berkaitan. Di sini, istri Andra dan istri Sanjaya yang diculik berusaha melarikan diri dari psikopat yang menyiksa mereka berdua. Anggy Umbara yang sebelumnya telah sukses menggarap film Warkop DKI Reborn, kini sukses menggarap film thriller pertamanya yang memiliki hasil sangat mengesankan. Alurnya yang realistis, berani mengangkat tabu, dan menyelipkan sarkasme yang kental terhadap kondisi Indonesia patut dipuji. Konflik-konflik yang dihadirkan sangat ‘relate’ dengan kehidupan masyarakat di perkotaan dan saya yakin sangat bisa dinikmati oleh penonton. Dari sisi emosional, tiga rangkaian film ini benar-benar mempengaruhi emosi saya selama menonton. Ketegangan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan yang diperlihatkan para pemerannya nampak nyata.
Selain itu, meski bukan sesuatu yang baru di dunia perfilman Indonesia, tema psikologi yang diterapkan dalam trilogi I Will Survive sudah berhasil dikemas dengan cara yang sangat apik. Penampilan para pemerannya, yang meskipun beberapa di antaranya baru pertama kali terlibat dalam pembuatan film thriller, cukup memuaskan. Omar Daniel, Onadio Leonardo, dan Morgan Oey telah mengerahkan kemampuan berperannya dengan sangat baik sebagai tokoh yang mengalami trauma, tekanan, kemarahan, dan ketakutan mendalam dalam fase hidup mereka. Akhir kata, saya dengan senang hati mengatakan bahwa trilogi I Will Survive membuat saya terkesan sekaligus tersanjung dengan hasilnya.
Minggu, 20 Juni 2021
Review Series Hitam (2021)
Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island
Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ? Industri film Amerika Serikat bany...
-
Bagaimana jika tubuh perempuan, yang selama ini dikendalikan dan ditafsirkan oleh laki-laki, justru menjadi sumber kekuatan paling subversif...
-
Bagaimana jika manusia bisa menggugat Tuhan atau bahkan menjadi Tuhan? Sebuah narasi yang terdengar radikal. Namun, inilah pertanyaan...
-
Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ? Industri film Amerika Serikat bany...





