Selasa, 05 Oktober 2021

This Is Not A Burrial, It’s A Resurrection: Janda Tua dan Perlawanan Melawan Penggusuran

      Mantoa, seorang janda berusia 80 tahun yang hidup sendiri setelah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Ia kesepian dan diselimuti kesedihan yang teramat dalam. Hidupnya dihabiskan dalam sebuah pondok kecil, mungkin harapannya adalah bisa menua dan mati dalam kedamaian di pondok tersebut, tapi sayang beribu sayang, Mantoa harus menelan pil pahit dari realita. Desanya akan direlokasi, sebuah bendungan akan dibangun di sana. Dengan kulit-kulit keriputnya dan sisa-sisa semangat, Mantoa melawan, berusaha mempertahankan desa, berusaha mempertahankan pondok, berusaha mempertahankan makam suami dan anaknya.

        Dalam film drama fiksi This is Not A Burrial, It’s A Resurrection berdurasi 120 menit yang digarap oleh Lemohang Jeremiah Mosese ini, Mantoa digambarkan sebagai perwakilan dari korban-korban penggusuran. Keinginannya tak banyak, hanya ingin dibiarkan terus hidup di desanya, tempat ia lahir dan tumbuh berpuluh-puluh tahun. Mantoa ingin mati dan dimakamkan di sana, di tempat orang tua, kakek-nenek buyut, dan anaknya pun dimakamkan. Permintaannya sederhana dan mungkin serumit itu pula untuk diwujudkan.

    Awalnya film ini mungkin terlihat memiliki konflik yang sempit dan terfokus pada kehidupan Mantoa sebagai ibu yang menjalani masa berkabung setelah kehilangan anak. Perempuan tua ini kehilangan semangat hidup. Hari demi hari setelah kematian anaknya hanya sebuah pengulangan aktivitas yang menyesakkan dada. Ia mati berkali-kali setiap hari ditikam kesedihan dan kegelapan dalam hatinya. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa konflik di desa tentang pembangunan dan relokasi bisa membuat semangat hidupnya kembali lagi. Perempuan berusia 80 tahun ini menjadi yang paling lantang dan keras menolak relokasi yang digembar-gemborkan negara sebagai pembangunan dan kemajuan peradaban itu.

        Mantoa mungkin adalah kita semua. Ia hanya rakyat biasa, berasal dari kaum yang tak punya kuasa dan dimarjinalkan oleh negara. Hal yang dimilikinya hanya pondok, ruang hidup di desa, dan semangat yang tersimpan dalam dirinya yang sudah renta. Perlawanan yang dilakukannya mungkin tidak berakhir baik dan sesuai harapan, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di ending film sejak awal cerita atau bahkan ketika melihat sinopsisnya. Namun, meski saya pribadi sudah bisa menebaknya, bagi saya, film ini tetap sangat memikat hati. Jalan ceritanya memang minim dialog dan statis, mungkin bagi yang tidak suka film ‘sedatar’ ini, Resurrection akan jadi film yang membosankan. Tapi, bagi kalian yang menyukai film penuh makna dan dekat dengan realitas, Resurrection bisa dijadikan pilihan tontonan yang menarik. Seperti judulnya, film ini bukan bercerita tentang kematian ataupun penguburan, ini adalah tentang kebangkitan. Kebangkitan semangat dari generasi ke generasi yang diwariskan Mantoa kepada anak-anak di desanya.

1 komentar:

  1. sosok perempuan Mantoa yang konservatif di desanya tidak terpengaruh dengan gegap gempita dunia saat ini dan memilih untuk tetap setia pada tanah kelahiran dan keluarganya. Menurutku ini istimewa banget

    BalasHapus

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...