Jumat, 13 Juni 2025

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup?



    Industri film Amerika Serikat banyak memproduksi film dengan genre thriller psikologi, salah satunya adalah Shutter Island. Film yang dirilis pada 2010 ini digarap oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dennis Lehane, cerita Shutter Island menyorot aksi Deputy Marshal bernama Edward Daniel yang datang ke rumah sakit jiwa terpencil khusus tahanan untuk menyelidiki kasus hilangnya salah satu pasien di Shutter Island. Namun, dalam penginvestigasiannya, Daniel menemukan fakta lain yang mengejutkan serta mengingatkannya pada masa lalu.

Shutter Island dalam tema misteri psikologinya menyajikan alur cerita yang kompleks dengan menghadirkan dua narasi berbeda. Penonton mungkin akan dibuat bingung dan terus bertanya-tanya tentang kebenaran cerita, bahkan hingga film ini berakhir. Mendapat rating 8,2/10 dari 1.179.969 kritik di IMDB dan 68% dari 259 kritik di Rotten Tomatoes, Shutter Island telah menghadirkan beberapa perdebatan dan teori-teori mengenai alur ceritanya yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Edward dijebak, ada pula yang berpendapat bahwa Edward benar-benar mengalami halusinasi karena trauma masa lalunya. Tetapi, barangkali penonton bebas ingin memilih ending yang mana untuk kisah hidup seorang Edward Daniels. Terlepas dari betapa rumitnya kisah Shutter Island, sebagai film yang mengangkat kehidupan dari perspektif seorang pria dengan trauma berat dan terjebak di rumah sakit jiwa yang dipenuhi pasien ‘berbahaya’, kita dapat mengambil pelajaran dari sosok Edward Daniel dan tokoh-tokoh di Shutter Island dalam menghadapi trauma.


4 Pelajaran yang Dapat Diambil dari Shutter Island

  1. Memahami Trauma dengan Berani Menghadapinya

    Apa yang dirasakan oleh Daniels adalah trauma psikologis yang diakibatkan oleh peristiwa buruk yang dialaminya di masa lalu. Sebagai seorang veteran perang dunia, Daniel tentu punya banyak pengalaman buruk yang tidak bisa dilupakan oleh ingatan. Misalnya, selama perang, Daniel harus melihat ratusan orang tidak bersalah mati di depan matanya dan kekerasan yang dianggap wajar padahal sebenarnya tidak manusiawi. Belum lagi, kehilangan mendalam yang dialami oleh Daniel akibat kematian istrinya. Semua kejadian itu sebenarnya membuat jiwa dan nurani Daniel terguncang, namun apa yang dirasakannya berusaha disangkal oleh Daniel yang justru memperparah keadaan psikologisnya. Daniel jadi menderita akibat emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengganggu di kepalanya.

    Efeknya pun membuat Daniel mengalami kondisi disosiatif, ia tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri dan kehilangan beberapa ingatan yang penting. Dalam kasus Daniel, penyangkalan adalah salah satu faktor yang membuat kejiwaannya menjadi berantakan. Jika saja Daniel mampu menerima, menanggapi, dan menghadapinya mungkin akan ada jalan keluar untuk hidupnya. Sayangnya, upaya penyangkalan dan tidak berusaha memahami kalau ia mengalami trauma berat akhirnya membuat Daniel terjebak dalam pikiran, ilusi, dan cerita fiksinya sendiri.

  2. Menyikapi dan Menghadapi Orang-orang dengan Penyakit Kejiwaan

    Chuck Aule sebagai rekan ‘fiktif’ Daniel dan Dokter Cawley adalah sosok yang sebenarnya bijak dan manusiawi. Mereka berkeyakinan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa sebenarnya merupakan orang-orang yang sakit dan perlu pemahaman khusus untuk menyikapi cara berpikir dan bertindak mereka. Dokter Cawley menyatakan dalam dialognya bahwa bagaimanapun orang-orang dengan gangguan jiwa itu masih manusia yang tidak ingin diperlakukan kasar dan buruk, tak peduli perbuatan buruk apa yang telah mereka lakukan, maka satu-satunya jalan untuk menghadapi mereka adalah dengan cara yang lembut, pengertian, tidak menghakimi, dan memandang mereka layaknya manusia ‘waras’ dan ‘normal’. Meski begitu, kebohongan dan pilihan Cawley dalam mengikuti halusinasi Daniel adalah cara yang salah untuk menghadapi orang-orang seperti Daniel sebab membuatnya justru semakin tidak bisa menerima kenyataan.

    Sementara itu, Chuck hadir sebagai sosok rekan yang baik bagi Daniel. Karakternya yang selalu memberi dukungan dan pengertian pada Daniel adalah sikap yang semestinya dicontoh ketika kita menghadapi orang-orang yang sedang atau baru saja mengalami peristiwa buruk dalam hidupnya sehingga menimbulkan trauma, depresi, dan masalah mental lainnya. Bahkan Chuck sangat menunjukkan kepedulian dan rasa empatinya kepada Daniel yang sebenarnya adalah pasiennya sendiri. Bagi orang-orang yang jiwanya sedang terguncang dan sakit, sosok Chuck sudah pasti dilihatnya bagaikan malaikat penolong yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitannya. Barangkali muncul pertanyaan di kepala teman-teman, mengapa Daniel tidak juga sembuh bahkan setelah Chuck dan Dokter Cawley membantunya? Berkaitan dengan point pertama, Daniel masih menyangkal kenyataan yang seharusnya ia hadapi dan tidak mau memahami kondisinya sendiri. Itu yang menyebabkan upaya Chuck dan Dokter Cawley tidak membuahkan hasil yang baik.

  3. Memahami Diri Sendiri adalah Sebuah Jalan Penyelamatan

    Rasa sakit yang tidak disembuhkan akan menimbulkan rasa sakit lain yang bisa jauh lebih parah dan hebat. Barangkali itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan Daniel. Ia menikahi seorang perempuan yang jiwanya sakit dan tidak berupaya menyembuhkan dirinya. Istrinya, Dolores, sejak awal bertemu Daniel memang sudah memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dolores tidak memahami kondisi dirinya dan dikuasai oleh pikiran serta ilusi gelap yang diciptakan kepalanya. Keadaan itu membuat Dolores mampu berbuat di luar kendali dan bisa tidak merasa bersalah. Apa yang dilakukan Dolores di kemudian hari justru membuat Daniel yang sejak perang memiliki trauma mendalam kembali dihantam trauma yang lebih hebat dengan kematiannya dan anak-anak mereka.

    Rasa sakit di jiwa Dolores yang selama ini dirasakan membuat jiwa Daniel semakin sakit dengan perbuatannya, hingga akhirnya kondisi Daniel bertambah parah dengan mengalami disosiatif karena terlalu banyak menyangkal. Seandainya Dolores maupun Daniel mampu memahami dirinya sendiri dan berusaha menyembuhkan jiwa mereka yang terluka, keluarga dan hidup mereka mungkin bisa diselamatkan dan berakhir dengan baik.

  4. Menghentikan Rantai Penderitaan dengan Memaafkan dan Melepaskan

    Pada akhirnya, yang membuat Daniel selalu menderita adalah dirinya sendiri yang kehilangan hidup dan jati diri akibat rasa bersalah yang ia sangkal mati-matian. Daniel tidak bisa lagi memandang hidup dengan cara yang jernih setelah gagal menyelamatkan anak-anaknya dan membunuh istrinya. Penyangkalan-penyangkalan yang dilakukan membawa Daniel tenggelam dalam jurang delusi yang kelam dan melenakan. Sebenarnya, penyangkalan adalah fase yang pasti dan wajar dirasakan oleh orang-orang yang ditinggalkan, tetapi jika berlarut-larut dalam fase itu seperti yang dilakukan Daniel, akibatnya justru fatal. Bagi orang-orang seperti Daniel, hal yang tepat dan dibutuhkan adalah penerimaan dan pemaafan dari dirinya sendiri. Bahkan dalam salah satu adegan, George Noyce yang terkurung di sel sudah berusaha meminta pria itu untuk melepaskan apa yang selama ini membelenggunya dalam penderitaan, yaitu rasa bersalah dan sesal.

    Namun, terlalu sulit Daniel melakukannya. Ia masih saja memilih untuk menyangkal dan tenggelam dalam ilusi dengan hidup sebagai Edward Daniel yang menyandang jabatan Deputy Marshal dan sedang menginvestigasi kasus di rumah sakit. Delusi yang dihadapi Daniel adalah mekanisme pertahanannya sendiri untuk menolak kenyataan yang menyakitkan dan rasa bersalah yang tidak bisa ia maafkan. Kalimat yang cukup ikonik dari film Shutter Island dan merupakan bagian penutup film adalah pertanyaan Daniel pada Chuck, ia bertanya “Which would be worse, to life as monster or to die as a good man?” Pertanyaan ini kemudian menunjukkan pilihan Daniel pada hidupnya. Alih-alih mau memaafkan dan menerima dirinya sendiri, ia lebih ingin menyangkal dan tetap bertahan pada identitas ciptaannya. Daripada hidup sebagai monster yang mengakui telah membunuh istrinya dan tersiksa dalam penyesalan yang tiada habis, Daniel memilih untuk mati sebagai ‘pria baik’ yang tidak mengingat perbuatan jahatnya.

    Shutter Island dengan jalan ceritanya yang rumit ini ingin menyampaikan kepada penonton tentang pentingnya memahami diri sendiri dan memaafkan. Entah itu memaafkan diri sendiri ataupun memaafkan orang lain. Dari perspektif Edward Daniel pula, cerita kemudian berjalan untuk menyampaikan kesulitan-kesulitan yang mungkin dirasakan orang-orang seperti Daniel dalam prosesnya memaafkan diri sendiri, proses yang sulit bahkan hampir mustahil dilakukan jika tanpa kemauan dari dalam diri dan dukungan orang-orang sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...