Wonder Woman 1984 merupakan film drama aksi fantasi dan merupakan sequel dari Wonder Woman yang pernah dirilis pada 2017 lalu. Film ini disutradarai oleh Patty Jenkins dari naskah yang dikerjakannya bersama Geoff Johns dan David Callaham. Wonder Woman 1984 tayang perdana pada 2020 lalu dan saat ini sudah bisa dinikmati di CatchPlay+. Berdurasi 151 menit dengan menampilkan Gal Gadot, Chris Pine, Kristen Wiig, dan Pedro Pascal untuk menceritakan petualangan dan aksi dari Wonder Woman dengan berlatar setting tahun 1980-an. Dalam kisahnya kali ini, Wonder Woman menghadapi dua musuh baru yang memiliki artefak kuno berupa batu harapan untuk mengabulkan segala keinginan dari si pemegangnya, lalu akibat keserakahan, batu itu membawa dunia menjadi tempat yang buruk dan hampir menemui kehancuran. Wonder Woman berusaha menghentikan segala kekacauan yang terjadi dan mengorbankan keinginannya.
Sutradara Patty Jenkins mengarahkan film ini dengan menggabungkan elemen aksi fantasi, humor, romansa, dan kekeluargaan dalam Wonder Woman 1984 serta menjadikan film ini memiliki tingkat emosional yang tinggi. Plot cerita yang dibuatnya bersama Johns dan Callaham cukup kuat dan memukau ditambah banyak pesan baik yang diberikan secara gamblang maupun yang diselipkan secara halus oleh mereka. Sebenarnya, ide cerita yang diberikan cukup brilian. Kita akan menemukan aksi yang keren, humor yang renyah, romansa yang manis sekaligus memilukan, dan adanya adegan ayah-anak yang mengharukan. Semuanya bisa saja dikemas dengan baik, tetapi saya rasa ada eksekusi yang kurang dilakukan oleh Jenkins sehingga mengurangi ketegangan dan sensasi dari filmnya.
Kekurangan itu cukup tertutupi oleh penampilan menawan Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang tangguh dan memikat, chemistrynya bersama Chris Pine adalah salah satu poin tambahan yang patut diapresiasi. Dan masih ada Kristen Wiig dan Pedro Pascal yang menjadi ‘musuh utama’ bagi Wonder Woman, akting mereka meyakinkan dan berkembang dengan pasti, menggambarkan ketamakan dan dua sisi yang bertabrakan satu sama lain. Hal menarik yang perlu dibahas adalah sinematografi, pengeditan, dan efek visualnya. Canggih dan menakjubkan sudah tentu, saya rasa itu akan sangat menghibur penonton dan menghilangkan kebosanan dari tempo film yang terlalu panjang. Skor musik yang digarap oleh Hans Zimmer mendukung tampilan visualnya. Ya, itu semua sudah cukup untuk menciptakan film yang asyik dan dapat dinikmati.
Terlepas dari betapa kacaunya plot cerita, saya tetap menyukai pesan yang terselip di dalamnya. Tanpa bermaksud menceramahi atau menggurui, Jenkins melalui film ini menunjukkan bagaimana ketamakan manusia bisa menciptakan kehancuran mengerikan yang tak terbayangkan, harapan-harapan baik yang mungkin menjadi sesuatu yang buruk ketika terwujud, dan hangatnya cinta seorang anak kepada ayahnya. Ini sangat menarik. Mengingat Wonder Woman 1984 dirilis dalam masa pandemi, baik rasanya mengungkapkan tiga pesan tersebut, terutama tentang harapan. Dari sini kita belajar menerima untuk merasa “tidak apa-apa” di saat banyak harapan yang kita inginkan tidak terwujud dan dengan lapang berpikir bahwa bisa jadi semesta tidak mengabulkannya karena itu akan menjadi sesuatu yang buruk ketika menjadi nyata.





