Jumat, 29 Januari 2021

Review Wonder Woman 1984

    


Wonder Woman 1984
Sutradara: Patty Jenkins
Durasi: 151 menit
Pemeran: Gal Gadot, Chris Pine, Kristen Wiig, dan Pedro Pascal

Wonder Woman 1984 merupakan film drama aksi fantasi dan merupakan sequel dari Wonder Woman yang pernah dirilis pada 2017 lalu. Film ini disutradarai oleh Patty Jenkins dari naskah yang dikerjakannya bersama Geoff Johns dan David Callaham. Wonder Woman 1984 tayang perdana pada 2020 lalu dan saat ini sudah bisa dinikmati di CatchPlay+. Berdurasi 151 menit dengan menampilkan Gal Gadot, Chris Pine, Kristen Wiig, dan Pedro Pascal untuk menceritakan petualangan dan aksi dari Wonder Woman dengan berlatar setting tahun 1980-an. Dalam kisahnya kali ini, Wonder Woman menghadapi dua musuh baru yang memiliki artefak kuno berupa batu harapan untuk mengabulkan segala keinginan dari si pemegangnya, lalu akibat keserakahan, batu itu membawa dunia menjadi tempat yang buruk dan hampir menemui kehancuran. Wonder Woman berusaha menghentikan segala kekacauan yang terjadi dan mengorbankan keinginannya.

    Sutradara Patty Jenkins mengarahkan film ini dengan menggabungkan elemen aksi fantasi, humor, romansa, dan kekeluargaan dalam Wonder Woman 1984 serta menjadikan film ini memiliki tingkat emosional yang tinggi. Plot cerita yang dibuatnya bersama Johns dan Callaham cukup kuat dan memukau ditambah banyak pesan baik yang diberikan secara gamblang maupun yang diselipkan secara halus oleh mereka. Sebenarnya, ide cerita yang diberikan cukup brilian. Kita akan menemukan aksi yang keren, humor yang renyah, romansa yang manis sekaligus memilukan, dan adanya adegan ayah-anak yang mengharukan. Semuanya bisa saja dikemas dengan baik, tetapi saya rasa ada eksekusi yang kurang dilakukan oleh Jenkins sehingga mengurangi ketegangan dan sensasi dari filmnya.

    


    Kekurangan itu cukup tertutupi oleh penampilan menawan Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang tangguh dan memikat, chemistrynya bersama Chris Pine adalah salah satu poin tambahan yang patut diapresiasi. Dan masih ada Kristen Wiig dan Pedro Pascal yang menjadi ‘musuh utama’ bagi Wonder Woman, akting mereka meyakinkan dan berkembang dengan pasti, menggambarkan ketamakan dan dua sisi yang bertabrakan satu sama lain. Hal menarik yang perlu dibahas adalah sinematografi, pengeditan, dan efek visualnya. Canggih dan menakjubkan sudah tentu, saya rasa itu akan sangat menghibur penonton dan menghilangkan kebosanan dari tempo film yang terlalu panjang. Skor musik yang digarap oleh Hans Zimmer mendukung tampilan visualnya. Ya, itu semua sudah cukup untuk menciptakan film yang asyik dan dapat dinikmati.

    Terlepas dari betapa kacaunya plot cerita, saya tetap menyukai pesan yang terselip di dalamnya. Tanpa bermaksud menceramahi atau menggurui, Jenkins melalui film ini menunjukkan bagaimana ketamakan manusia bisa menciptakan kehancuran mengerikan yang tak terbayangkan, harapan-harapan baik yang mungkin menjadi sesuatu yang buruk ketika terwujud, dan hangatnya cinta seorang anak kepada ayahnya. Ini sangat menarik. Mengingat Wonder Woman 1984 dirilis dalam masa pandemi, baik rasanya mengungkapkan tiga pesan tersebut, terutama tentang harapan. Dari sini kita belajar menerima untuk merasa “tidak apa-apa” di saat banyak harapan yang kita inginkan tidak terwujud dan dengan lapang berpikir bahwa bisa jadi semesta tidak mengabulkannya karena itu akan menjadi sesuatu yang buruk ketika menjadi nyata.

Sabtu, 23 Januari 2021

Review Film Fear(less) and Dear (2020)



Fear(less) and Dear (2020)
Sutradara: Anson MAK
Genre: Dokumenter
Durasi: 1 jam 46 menit

    Fear(less) and Dear adalah film dokumenter dengan durasi 106 menit yang dirilis pada 20 Oktober 2020. Film yang menyoroti ketakutan dan perasaan para orang tua muda setelah mengalami masa-masa sulit akibat gerakan politik yang disebabkan oleh RUU anti-ekstradisi sejak musim panas 2019 hingga kemudian pandemi Covid-19 melanda ini disutradarai oleh seorang peneliti sekaligus seniman bernama Anson MAK.

    Berisi gagasan dan pemikiran tiga seniman lokal terhadap ketakutan, harapan, dan kebebasan setelah melihat bagaimana kerusuhan politik terjadi di Hongkong. Fear(less) and Dear menghadirkan tiga seniman lokal untuk membagikan cerita mereka dan memberikan tanggapan serta harapan mereka pada generasi selanjutnya. Tiga seniman itu adalah Clara Cheung, seorang seniman pertunjukan yang menjadi anggota dewan distrik; Justin Wong, seorang seniman komik politik; dan Cheung Yuen-man, seorang penulis.

    Dapat saya katakan, bahwa ini adalah film dokumenter yang sangat menyentuh. Ketiga seniman yang bercerita membawa saya menuju sebuah dimensi lain di mana saya dapat memahami emosi batin dan kondisi psikologis mereka ketika kerusuhan itu terjadi atau kekhawatiran mereka terhadap masa depan anak-anaknya. Juga, membuat saya sekaligus berpikir, bagaimana saya harus bersikap jika saya menjadi orang tua muda di tengah-tengah kondisi yang sulit, menegangkan, dan traumatis? Mungkin saya terlalu sentimental karena ikut menangis ketika Clara Cheung dan Cheung Yuen-man menceritakan kisah mereka dengan menahan tangis. Tapi, itu benar-benar mengharukan untuk saya.

    


  Menariknya, film dokumenter ini begitu estetik. Fear(less) and Dear menggabungkan seni pertunjukan, gambar-gambar komik, dan sastra sekaligus dari karya ketiga seniman yang dihadirkan. Anson, dengan pemikirannya, ingin menyampaikan pesan bahwa karya seni dapat merespons keresahan politik dan emosi pribadi, seperti apa yang Anson lakukan dengan film dokumenternya ini. Narasi cerita terus berjalan dan gambar-gambar eksperimental pun terus ditunjukkan, ya, saya tidak akan mengatakan bahwa ini film dokumenter yang membosankan, karena selama 106 menit berlangsung, saya sangat menikmatinya.

    Saya sangat mengapresiasi hasil bidikan dan editan Anson untuk rekaman lapangannya, pengambilan gambar yang indah dan menggunakan tone warna yang lembut serta halus itu memanjakan mata saya. Musik yang dipilih untuk film dokumenter ini pun terasa sangat pas jika tujuannya memang untuk membuat perasaan dan pikiran para pencerita tersampaikan. Menurut saya, Anson telah berhasil mencapai tujuan eksperimennya ini dengan menjalin emosi antara film dan penonton.

    “Kecemasan, harapan, dan cinta kasih”, saya rasa kata-kata itu bisa merangkum semua hal yang disajikan oleh Fear(less) and Dear. Anson mengajak kita untuk menyetel pemikiran terhadap masa-masa sulit yang dilalui, memaknai ulang ketakutan, harapan, dan kebebasan dengan perspektif baru dari cerita dan pengalaman orang-orang. Untuk menutup ini, saya akan mengutip kalimat yang saya sukai dari gagasan Justin Wong mengenai ketakutan dan harapan, “Fear can crush hopes, yet hope can destroy fear.”

Jumat, 22 Januari 2021

Review Film Camille (2019)

 


Camille (2019)
Sutradara: Boris Lojkine
Skenario: Boris Lojkine dan Bojina Panayotova
Genre: Drama Biographi
Durasi: 1 jam 30 menit

            Camille merupakan film drama dokumenter otobiografi yang berdasarkan pada kisah nyata seorang fotografer jurnalis bernama Camille Lepage yang berasal dari Perancis. Film berdurasi 90 menit yang dirilis pada 2019 ini disutradarai oleh Boris Lojkine yang skenarionya ditulis Boris bersama Bojina Panayotova. Dalam film ini, aktris kenamaan Nina Meurisse berperan sebagai Camille Lepage, fotografer yang terbunuh pada usia 26 tahun di Republik Afrika Tengah saat tengah meliput perang saudara yang terjadi sepanjang tahun 2012 sampai 2014.

            Plot ceritanya berjalan secara non-linear. Film ini bergerak layaknya film dokumenter dengan bidikan kamera yang intens. Menyorot bagaimana seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di sebuah wilayah konflik mengambil berbagai macam risiko di lapangan. Ini film yang memilukan sekaligus berani. Boris menampilkan sisi kemanusiaan dalam menceritakan sosok Camille, seseorang yang kompleks, idealis, dan otentik. Dari karya Boris yang satu ini, setidaknya kita paham bagaimana seorang reporter perang bekerja. Tekanan moral dan batin serta trauma berkepanjangan menyerang mereka yang melihat bagaimana ‘murah’nya nyawa seorang manusia dalam suatu perang.

            Boris dan krunya jelas telah berhasil menyampaikan satu pesan penting dalam karyanya, yaitu perdamaian dan persaudaraan lewat sosok Camille yang mengamati dan memperhatikan bagaimana sebuah bangsa dan rakyatnya mengalami tragedi yang amat tragis. Camille yang berasal dari negara yang jauh menaruh empatinya pada orang-orang asing yang ia anggap saudaranya sendiri, saudara dalam kemanusiaan. Bahkan ia telah menganggap bahwa Afrika Tengah seperti rumahnya dan merasa bertanggungjawab untuk menghentikan konflik yang terjadi. Beberapa upaya telah ia lakukan, menegaskan pada teman-teman Afrika yang ia kenal bahwa “nyawa dibayar nyawa” bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan dan tidak akan menyelesaikan apapun.


            Sebenarnya Camille adalah kisah yang sangat indah meski dibalut dengan ketragisan. Bulan-bulan terakhir kehidupan Camille dirangkum dalam 90 menit film yang pada akhirnya menguras air mata saya. Lewat foto-foto yang diabadikan Camille, ia menyampaikan apa yang dilihat lewat matanya pada dunia. Camille meninggalkan keluarga dan kenyamanannya di Perancis untuk terlibat dalam misi kemanusiaan yang mengantarkannya pada garis nasib dan kematian. Nina Meurisse yang memerankan sosok Camille teramat sempurna dalam menampilkan karakter reporter muda yang idealis. Aktingnya tidak dapat diragukan dan membuat saya pribadi bersimpati pada konflik yang terjadi di Afrika Tengah.

            Hal lain yang sangat menarik dari film garapan Boris ini adalah elemen dokumenter dan sinematiknya. Elin Kirschfink menyajikannya sangat dekat sehingga ketika menonton Camille, saya merasa seperti menjadi bagian dari perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun. Ketegangan pun terasa saat dua kubu yang saling membunuh itu melakukan kekerasan dan merenggut banyak nyawa tak berdosa. Aktor-aktor pembantu sangat meyakinkan dalam perannya, kualitas akting mereka membuat saya yakin pada kemampuan Boris dalam mengarahkan para aktornya.

            Akhir kata, saya sangat menyanjung film ini bahkan berharap banyak orang yang akan menontonnya lalu menangkap pesan yang ingin disampaikan Boris lewat kisah Camille. Saya berharap peperangan di seluruh dunia dapat berakhir sehingga tidak ada lagi kisah-kisah tragis yang menimpa Camille dan korban perang kembali terulang, karena nyawa manusia terlalu berharga untuk itu.

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...