Industri film Amerika Serikat banyak memproduksi film dengan genre thriller psikologi, salah satunya adalah Shutter Island. Film yang dirilis pada 2010 ini digarap oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dennis Lehane, cerita Shutter Island menyorot aksi Deputy Marshal bernama Edward Daniel yang datang ke rumah sakit jiwa terpencil khusus tahanan untuk menyelidiki kasus hilangnya salah satu pasien di Shutter Island. Namun, dalam penginvestigasiannya, Daniel menemukan fakta lain yang mengejutkan serta mengingatkannya pada masa lalu.
Shutter Island dalam tema misteri psikologinya menyajikan alur cerita yang kompleks dengan menghadirkan dua narasi berbeda. Penonton mungkin akan dibuat bingung dan terus bertanya-tanya tentang kebenaran cerita, bahkan hingga film ini berakhir. Mendapat rating 8,2/10 dari 1.179.969 kritik di IMDB dan 68% dari 259 kritik di Rotten Tomatoes, Shutter Island telah menghadirkan beberapa perdebatan dan teori-teori mengenai alur ceritanya yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Edward dijebak, ada pula yang berpendapat bahwa Edward benar-benar mengalami halusinasi karena trauma masa lalunya. Tetapi, barangkali penonton bebas ingin memilih ending yang mana untuk kisah hidup seorang Edward Daniels. Terlepas dari betapa rumitnya kisah Shutter Island, sebagai film yang mengangkat kehidupan dari perspektif seorang pria dengan trauma berat dan terjebak di rumah sakit jiwa yang dipenuhi pasien ‘berbahaya’, kita dapat mengambil pelajaran dari sosok Edward Daniel dan tokoh-tokoh di Shutter Island dalam menghadapi trauma.
1.
Memahami
Trauma dengan Berani Menghadapinya
Apa yang dirasakan oleh Daniels
adalah trauma psikologis yang diakibatkan oleh peristiwa buruk yang dialaminya
di masa lalu. Sebagai seorang veteran perang dunia, Daniel tentu punya banyak
pengalaman buruk yang tidak bisa dilupakan oleh ingatan. Misalnya, selama
perang, Daniel harus melihat ratusan orang tidak bersalah mati di depan matanya
dan kekerasan yang dianggap wajar padahal sebenarnya tidak manusiawi. Belum
lagi, kehilangan mendalam yang dialami oleh Daniel akibat kematian istrinya.
Semua kejadian itu sebenarnya membuat jiwa dan nurani Daniel terguncang, namun
apa yang dirasakannya berusaha disangkal oleh Daniel yang justru memperparah
keadaan psikologisnya.
Daniel jadi menderita akibat emosi,
ingatan, dan kecemasan yang mengganggu di kepalanya. Efeknya pun membuat Daniel
mengalami kondisi disosiatif, ia tidak bisa mengidentifikasi dirinya sendiri
dan kehilangan beberapa ingatan yang penting. Dalam kasus Daniel, penyangkalan
adalah salah satu faktor yang membuat kejiwaannya menjadi berantakan. Jika saja
Daniel mampu menerima, menanggapi, dan menghadapinya mungkin akan ada jalan
keluar untuk hidupnya. Sayangnya, upaya penyangkalan dan tidak berusaha
memahami kalau ia mengalami trauma berat akhirnya membuat Daniel terjebak dalam
pikiran, ilusi, dan cerita fiksinya sendiri.
2.
Menyikapi
dan Menghadapi Orang-orang dengan Penyakit Kejiwaan
Chuck Aule sebagai rekan ‘fiktif’
Daniel dan Dokter Cawley adalah sosok yang sebenarnya bijak dan manusiawi.
Mereka berkeyakinan bahwa orang-orang dengan gangguan jiwa sebenarnya merupakan
orang-orang yang sakit dan perlu pemahaman khusus untuk menyikapi cara berpikir
dan bertindak mereka. Dokter Cawley menyatakan dalam dialognya bahwa
bagaimanapun orang-orang dengan gangguan jiwa itu masih manusia yang tidak
ingin diperlakukan kasar dan buruk, tak peduli perbuatan buruk apa yang telah
mereka lakukan, maka satu-satunya jalan untuk menghadapi mereka adalah dengan
cara yang lembut, pengertian, tidak menghakimi, dan memandang mereka layaknya
manusia ‘waras’ dan ‘normal’. Meski begitu, kebohongan dan pilihan Cawley dalam
mengikuti halusinasi Daniel adalah cara yang salah untuk menghadapi orang-orang
seperti Daniel sebab membuatnya justru semakin tidak bisa menerima kenyataan.
Sementara itu, Chuck hadir sebagai
sosok rekan yang baik bagi Daniel. Karakternya yang selalu memberi dukungan dan
pengertian pada Daniel adalah sikap yang semestinya dicontoh ketika kita
menghadapi orang-orang yang sedang atau baru saja mengalami peristiwa buruk dalam
hidupnya sehingga menimbulkan trauma, depresi, dan masalah mental lainnya.
Bahkan Chuck sangat menunjukkan kepedulian dan rasa empatinya kepada Daniel
yang sebenarnya adalah pasiennya sendiri. Bagi orang-orang yang jiwanya sedang
terguncang dan sakit, sosok Chuck sudah pasti dilihatnya bagaikan malaikat
penolong yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitannya. Barangkali muncul
pertanyaan di kepala teman-teman, mengapa Daniel tidak juga sembuh bahkan
setelah Chuck dan Dokter Cawley membantunya? Berkaitan dengan point pertama,
Daniel masih menyangkal kenyataan yang seharusnya ia hadapi dan tidak mau
memahami kondisinya sendiri. Itu yang menyebabkan upaya Chuck dan Dokter Cawley
tidak membuahkan hasil yang baik.
3.
Memahami
Diri Sendiri adalah Sebuah Jalan Penyelamatan
Rasa sakit yang tidak disembuhkan
akan menimbulkan rasa sakit lain yang bisa jauh lebih parah dan hebat.
Barangkali itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan Daniel.
Ia menikahi seorang perempuan yang jiwanya sakit dan tidak berupaya
menyembuhkan dirinya. Istrinya, Dolores, sejak awal bertemu Daniel memang sudah
memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dolores tidak
memahami kondisi dirinya dan dikuasai oleh pikiran serta ilusi gelap yang diciptakan
kepalanya. Keadaan itu membuat Dolores mampu berbuat di luar kendali dan bisa
tidak merasa bersalah.
Apa yang dilakukan Dolores di
kemudian hari justru membuat Daniel yang sejak perang memiliki trauma mendalam
kembali dihantam trauma yang lebih hebat dengan kematiannya dan anak-anak
mereka. Rasa sakit di jiwa Dolores yang selama ini dirasakan membuat jiwa
Daniel semakin sakit dengan perbuatannya, hingga akhirnya kondisi Daniel
bertambah parah dengan mengalami disosiatif karena terlalu banyak menyangkal.
Seandainya Dolores maupun Daniel mampu memahami dirinya sendiri dan berusaha
menyembuhkan jiwa mereka yang terluka, keluarga dan hidup mereka mungkin bisa
diselamatkan dan berakhir dengan baik.
4.
Menghentikan
Rantai Penderitaan dengan Memaafkan dan Melepaskan
Pada akhirnya, yang membuat Daniel
selalu menderita adalah dirinya sendiri yang kehilangan hidup dan jati diri
akibat rasa bersalah yang ia sangkal mati-matian. Daniel tidak bisa lagi
memandang hidup dengan cara yang jernih setelah gagal menyelamatkan
anak-anaknya dan membunuh istrinya. Penyangkalan-penyangkalan yang dilakukan
membawa Daniel tenggelam dalam jurang delusi yang kelam dan melenakan.
Sebenarnya, penyangkalan adalah fase yang pasti dan wajar dirasakan oleh
orang-orang yang ditinggalkan, tetapi jika berlarut-larut dalam fase itu
seperti yang dilakukan Daniel, akibatnya justru fatal.
Bagi orang-orang seperti Daniel, hal
yang tepat dan dibutuhkan adalah penerimaan dan pemaafan dari dirinya sendiri.
Bahkan dalam salah satu adegan, George Noyce yang terkurung di sel sudah
berusaha meminta pria itu untuk melepaskan apa yang selama ini membelenggunya
dalam penderitaan, yaitu rasa bersalah dan sesal. Namun, terlalu sulit Daniel
melakukannya. Ia masih saja memilih untuk menyangkal dan tenggelam dalam ilusi
dengan hidup sebagai Edward Daniel yang menyandang jabatan Deputy Marshal dan
sedang menginvestigasi kasus di rumah sakit.
Delusi yang dihadapi Daniel adalah
mekanisme pertahanannya sendiri untuk menolak kenyataan yang menyakitkan dan
rasa bersalah yang tidak bisa ia maafkan. Kalimat yang cukup ikonik dari film
Shutter Island dan merupakan bagian penutup film adalah pertanyaan Daniel pada
Chuck, ia bertanya “Which would be worse, to life as monster or to die as a
good man?” Pertanyaan ini kemudian menunjukkan pilihan Daniel pada hidupnya.
Alih-alih mau memaafkan dan menerima dirinya sendiri, ia lebih ingin menyangkal
dan tetap bertahan pada identitas ciptaannya. Daripada hidup sebagai monster
yang mengakui telah membunuh istrinya dan tersiksa dalam penyesalan yang tiada
habis, Daniel memilih untuk mati sebagai ‘pria baik’ yang tidak mengingat
perbuatan jahatnya.
Shutter Island dengan jalan
ceritanya yang rumit ini ingin menyampaikan kepada penonton tentang pentingnya
memahami diri sendiri dan memaafkan. Entah itu memaafkan diri sendiri ataupun
memaafkan orang lain. Dari perspektif Edward Daniel pula, cerita kemudian
berjalan untuk menyampaikan kesulitan-kesulitan yang mungkin dirasakan
orang-orang seperti Daniel dalam prosesnya memaafkan diri sendiri, proses yang
sulit bahkan hampir mustahil dilakukan jika tanpa kemauan dari dalam diri dan
dukungan orang-orang sekitar.