Jumat, 22 Januari 2021

Review Film Camille (2019)

 


Camille (2019)
Sutradara: Boris Lojkine
Skenario: Boris Lojkine dan Bojina Panayotova
Genre: Drama Biographi
Durasi: 1 jam 30 menit

            Camille merupakan film drama dokumenter otobiografi yang berdasarkan pada kisah nyata seorang fotografer jurnalis bernama Camille Lepage yang berasal dari Perancis. Film berdurasi 90 menit yang dirilis pada 2019 ini disutradarai oleh Boris Lojkine yang skenarionya ditulis Boris bersama Bojina Panayotova. Dalam film ini, aktris kenamaan Nina Meurisse berperan sebagai Camille Lepage, fotografer yang terbunuh pada usia 26 tahun di Republik Afrika Tengah saat tengah meliput perang saudara yang terjadi sepanjang tahun 2012 sampai 2014.

            Plot ceritanya berjalan secara non-linear. Film ini bergerak layaknya film dokumenter dengan bidikan kamera yang intens. Menyorot bagaimana seorang perempuan muda yang bekerja sebagai reporter di sebuah wilayah konflik mengambil berbagai macam risiko di lapangan. Ini film yang memilukan sekaligus berani. Boris menampilkan sisi kemanusiaan dalam menceritakan sosok Camille, seseorang yang kompleks, idealis, dan otentik. Dari karya Boris yang satu ini, setidaknya kita paham bagaimana seorang reporter perang bekerja. Tekanan moral dan batin serta trauma berkepanjangan menyerang mereka yang melihat bagaimana ‘murah’nya nyawa seorang manusia dalam suatu perang.

            Boris dan krunya jelas telah berhasil menyampaikan satu pesan penting dalam karyanya, yaitu perdamaian dan persaudaraan lewat sosok Camille yang mengamati dan memperhatikan bagaimana sebuah bangsa dan rakyatnya mengalami tragedi yang amat tragis. Camille yang berasal dari negara yang jauh menaruh empatinya pada orang-orang asing yang ia anggap saudaranya sendiri, saudara dalam kemanusiaan. Bahkan ia telah menganggap bahwa Afrika Tengah seperti rumahnya dan merasa bertanggungjawab untuk menghentikan konflik yang terjadi. Beberapa upaya telah ia lakukan, menegaskan pada teman-teman Afrika yang ia kenal bahwa “nyawa dibayar nyawa” bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan dan tidak akan menyelesaikan apapun.


            Sebenarnya Camille adalah kisah yang sangat indah meski dibalut dengan ketragisan. Bulan-bulan terakhir kehidupan Camille dirangkum dalam 90 menit film yang pada akhirnya menguras air mata saya. Lewat foto-foto yang diabadikan Camille, ia menyampaikan apa yang dilihat lewat matanya pada dunia. Camille meninggalkan keluarga dan kenyamanannya di Perancis untuk terlibat dalam misi kemanusiaan yang mengantarkannya pada garis nasib dan kematian. Nina Meurisse yang memerankan sosok Camille teramat sempurna dalam menampilkan karakter reporter muda yang idealis. Aktingnya tidak dapat diragukan dan membuat saya pribadi bersimpati pada konflik yang terjadi di Afrika Tengah.

            Hal lain yang sangat menarik dari film garapan Boris ini adalah elemen dokumenter dan sinematiknya. Elin Kirschfink menyajikannya sangat dekat sehingga ketika menonton Camille, saya merasa seperti menjadi bagian dari perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun. Ketegangan pun terasa saat dua kubu yang saling membunuh itu melakukan kekerasan dan merenggut banyak nyawa tak berdosa. Aktor-aktor pembantu sangat meyakinkan dalam perannya, kualitas akting mereka membuat saya yakin pada kemampuan Boris dalam mengarahkan para aktornya.

            Akhir kata, saya sangat menyanjung film ini bahkan berharap banyak orang yang akan menontonnya lalu menangkap pesan yang ingin disampaikan Boris lewat kisah Camille. Saya berharap peperangan di seluruh dunia dapat berakhir sehingga tidak ada lagi kisah-kisah tragis yang menimpa Camille dan korban perang kembali terulang, karena nyawa manusia terlalu berharga untuk itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...