Sabtu, 23 Januari 2021

Review Film Fear(less) and Dear (2020)



Fear(less) and Dear (2020)
Sutradara: Anson MAK
Genre: Dokumenter
Durasi: 1 jam 46 menit

    Fear(less) and Dear adalah film dokumenter dengan durasi 106 menit yang dirilis pada 20 Oktober 2020. Film yang menyoroti ketakutan dan perasaan para orang tua muda setelah mengalami masa-masa sulit akibat gerakan politik yang disebabkan oleh RUU anti-ekstradisi sejak musim panas 2019 hingga kemudian pandemi Covid-19 melanda ini disutradarai oleh seorang peneliti sekaligus seniman bernama Anson MAK.

    Berisi gagasan dan pemikiran tiga seniman lokal terhadap ketakutan, harapan, dan kebebasan setelah melihat bagaimana kerusuhan politik terjadi di Hongkong. Fear(less) and Dear menghadirkan tiga seniman lokal untuk membagikan cerita mereka dan memberikan tanggapan serta harapan mereka pada generasi selanjutnya. Tiga seniman itu adalah Clara Cheung, seorang seniman pertunjukan yang menjadi anggota dewan distrik; Justin Wong, seorang seniman komik politik; dan Cheung Yuen-man, seorang penulis.

    Dapat saya katakan, bahwa ini adalah film dokumenter yang sangat menyentuh. Ketiga seniman yang bercerita membawa saya menuju sebuah dimensi lain di mana saya dapat memahami emosi batin dan kondisi psikologis mereka ketika kerusuhan itu terjadi atau kekhawatiran mereka terhadap masa depan anak-anaknya. Juga, membuat saya sekaligus berpikir, bagaimana saya harus bersikap jika saya menjadi orang tua muda di tengah-tengah kondisi yang sulit, menegangkan, dan traumatis? Mungkin saya terlalu sentimental karena ikut menangis ketika Clara Cheung dan Cheung Yuen-man menceritakan kisah mereka dengan menahan tangis. Tapi, itu benar-benar mengharukan untuk saya.

    


  Menariknya, film dokumenter ini begitu estetik. Fear(less) and Dear menggabungkan seni pertunjukan, gambar-gambar komik, dan sastra sekaligus dari karya ketiga seniman yang dihadirkan. Anson, dengan pemikirannya, ingin menyampaikan pesan bahwa karya seni dapat merespons keresahan politik dan emosi pribadi, seperti apa yang Anson lakukan dengan film dokumenternya ini. Narasi cerita terus berjalan dan gambar-gambar eksperimental pun terus ditunjukkan, ya, saya tidak akan mengatakan bahwa ini film dokumenter yang membosankan, karena selama 106 menit berlangsung, saya sangat menikmatinya.

    Saya sangat mengapresiasi hasil bidikan dan editan Anson untuk rekaman lapangannya, pengambilan gambar yang indah dan menggunakan tone warna yang lembut serta halus itu memanjakan mata saya. Musik yang dipilih untuk film dokumenter ini pun terasa sangat pas jika tujuannya memang untuk membuat perasaan dan pikiran para pencerita tersampaikan. Menurut saya, Anson telah berhasil mencapai tujuan eksperimennya ini dengan menjalin emosi antara film dan penonton.

    “Kecemasan, harapan, dan cinta kasih”, saya rasa kata-kata itu bisa merangkum semua hal yang disajikan oleh Fear(less) and Dear. Anson mengajak kita untuk menyetel pemikiran terhadap masa-masa sulit yang dilalui, memaknai ulang ketakutan, harapan, dan kebebasan dengan perspektif baru dari cerita dan pengalaman orang-orang. Untuk menutup ini, saya akan mengutip kalimat yang saya sukai dari gagasan Justin Wong mengenai ketakutan dan harapan, “Fear can crush hopes, yet hope can destroy fear.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Memahami Trauma dan Memaafkan Diri Sendiri dari Shutter Island

 Bagaimana jika identitas kita sendiri adalah kebohongan yang kita ciptakan... demi bertahan hidup ?      Industri film Amerika Serikat bany...